dunia kecilku

you’ll never walk alone

Guus Hiddink

SEPAKBOLA begitu agungnya. Julukan agung pun sering dinobatkan pada seseorang yang sukses membawa timnya merajai laga akbar. Bangsa Jerman sepakat julukan Der Kaizer, sang kaisar, buat Franz Beckenbauer.

Legenda sepakbola ini berhasil membawa Jerman dua kali menjuarai Piala Dunia, saat ia sebagai pemain maupun pelatih. Laga sepakbola setingkat Piala Euro maupun Piala Dunia pun sering disebut-sebut bak laga antarimperium.

Di Euro 2008 yang bikin dunia terkagum-kagum adalah lolosnya Rusia dan Turki ke babak semifinal. Tak pelak, sukses mereka menarik orang menengok masa silam, masa kejayaan zaman Kaisar Rusia Peter Agung dan Kaisar Turki Ottoman.

Rusia masuk semifinal setelah menggilas Swedia 2-0. Para pemain Rusia bertempur bak pasukan Peter Agung saat mengganyang Swedia pada 7 April 1721. Dengan jumlah pasukan dan fasilitas militer yang lebih lengkap, Rusia saat itu berhasil menekuk lawannya.

Lawan Turki di seminal adalah Jerman. Lawan Rusia masih menunggu hasil laga antara Spanyol vs Italia. Tim Turki, tentunya, diharapkan gagah berani bak Sultan Oman yang menyatakan perang terhadap Jerman pada 10 September 1939.

Jika Italia maju ke final, Rusia pun diharapkan tak kalah berani dibanding pasukan Peter Agung melawan kekaisaran Romawi. Bagi Turki, prestasi mereka bukan hal baru meski tetap saja mengejutkan.

Saat Piala Dunia 2002 tim berjulukan “bulan sabit dan bintang” ini menembus semifinal. Lain halnya Rusia. Setelah Uni Soviet bubar, kebangkitan Rusia sebagai tim sepakbola yang layak disegani dunia tenggelam selama 20 tahun.

Kebangkitan itu seperti impian Rusia yang sudah berabad-abad: ingin menjadi negara nomor satu di dunia. Sebagai negara yang terjepit di antara Eropa dan Asia, impian Rusia adalah turun dan menguasai air hangat, samudra.

Konon, Rusia tahu persis bahwa siapa yang dapat memegang kendali atas Timur Tengah, dia dapat mengontrol tiga benua, Eropa, Asia dan Afrika. Bak mimpi itu, tim sepakbola Rusia tinggal selangkah lagi.

Jika Turki dan Rusia lolos ke final, seperti halnya Rusia menghadapi rintangan di jalur selatan. Untuk menguasai tiga benua, Rusia harus turun ke Selatan dan rintangan terbesar di depan mereka adalah imperium Turki. Bukan tak mungkin Rusia bisa menggapai ‘impian’ itu.

Rusia kini memiliki seorang pelatih bak Peter Agung. Dialah Guus Hiddink, orang asli, tulen, Belanda totok, yang membuat warga negeri asalnya bercucuran air mata.

Dia membuat jutaan orang mengutuknya sebagai pengkhianat. “The Greatest Dutch Traitor”. Begitulah media di Belanda menuliskan banner besar-besar di judul surat kabarnya.

Hiddink akhirnya dijuluki Tsar Baru Rusia setelah pasukannya menggilas tim Belanda 3-1 dalam laga delapan besar Euro 2008 pada Minggu (22/6) dinihari. Lewat tangan dingin Hiddink, impian lama Rusia, merajai sepakbola di Benua Eropa, tinggal dua langkah lagi.

Julukan itu tak berlebihan. Tak ada pelatih sepakbola yang dicintai di seantero dunia melebihi Guus Hiddink. Dia jadi legenda dari daratan Belanda, Korea Selatan, Australia, dan kini Rusia. Dari Asia hingga Siberia.

Tiba-tiba, ingatan sebagian warga Rusia, terkenang kembali ke awal abad ke-20. Itulah saat terakhir mereka memiliki seorang tsar, Nicholas II. Begitu Nikolay Alexandrovich Romanov, begitu nama lengkap Nicholas II tewas dieksekusi 90 tahun lalu, Rusia kehilangan kaisarnya.

Mereka baru mendapatkannya kembali Sabtu (21/6). Beda dengan sebelumnya, tsar Rusia ini bukan lahir di Moskow, Vladivostok, atau Kazan. Dia berasal dari Varsseveld, kota kecil di Belanda.

Lihatlah apa yang terjadi di Moskow, Sabtu malam itu. Semua orang meneriakkan namanya. “Guus, Guus, Guus,” teriak mereka membelah udara malam yang terasa lebih hangat. Presiden Rusia Dmitry Medvedev bahkan ikut memanaskan udara malam dengan mengirim ucapan selamat.
Hiddink, pelatih bertangan dingin yang umurnya 61 tahun itu telah mengembalikan kebanggaan Rusia. Tapi sekali lagi, Hiddink bukan hanya milik Rusia. Dia milik Korea atas jasanya
meloloskan Korsel ke semifinal Piala Dunia 2002.

Raksasa-raksasa Eropa, Portugal, Italia, dan Spanyol digeruduknya hingga tandas. Hiddink pun menjadi orang asing pertama yang mendapatkan status warga negara kehormatan Korsel. Dia boleh terbang ke manapun suka naik Korean Airlines dan Asiana Airlines.

Jika naik taksi di wilayah Korsel, tak seorang sopir taksi pun akan menagih bayaran. Di Jeju Island, sebuah kawasan wisata menyerupai Bali, Hiddink diberi sebuah villa, gratis. Istimewanya lagi, Stadion Piala Dunia di Gwangju, sejak itu berganti nama jadi Stadion Guus Hiddink.

Bukan Stadion Cha Beum Keun, pemain terbesar yang pernah lahir di Korsel. Guuseum, sebuah museum yang didirikan kerabatnya di Varsseveld, kini jadi tempat tujuan wisata favorit warga Korsel.

Hiddink juga pahlawan di Australia. Dia sukses membawa Australia lolos ke putaran kedua Piala Dunia 2006 di Jerman. Padahal, itulah penampilan perdana Australia dalam 32 tahun terakhir. Langkah Australia hanya terhenti sepakan Francesco Totti lewat penalti kontroversial.

Warga Australia begitu memuja Hiddink. Saat Piala Dunia 2006 berlangsung, sebuah surat kabar di Sydney berkampanye untuk mempertahankan Hiddink di Negeri Kanguru itu. Mereka mengajukan proposal ke pemerintah agar memberlakukan `pajak Hiddink’ untuk membayar gaji pelatih asal Belanda itu.

Dengan begitu, Hiddink diharapkan bisa membatalkan kontraknya menangani Rusia yang sudah ditandatangani pada 10 April 2006, dua bulan sebelum Piala Dunia berlangsung. Hiddink betul-betul figur populer di Australia. Publik Australia lebih senang menyebutnya “Aussie Guus”.

Saat Piala Dunia 2006 berlangsung, slogan yang diusung Australia sangat memuja Hiddink. “No Guus, No Glory”, “Guus For P.M.”, “In Guus We Trust”. Para pendukung Socceroos, julukan tim nasional Australia, punya teriakan khusus, “Gooooooooos”.

Tapi, Hiddink terus melangkah. Dia menerima kontrak 2,5 tahun dari Federasi Sepak Bola Rusia senilai 2,4 juta dolar AS setahun di luar bonus. Kontrak itu mereka sepakati diperpanjang hingga 2010, sampai seusai Piala Dunia di Afrika Selatan.

Betulkah Hiddink seorang pengkhianat? “Saya berharap tak mengungkapkan kata-kata itu dalam pertemuan pers kemarin. Menurut saya, pengkhianat adalah kata yang sangat buruk,” ujar Hiddink yang sebelumnya menyatakan akan senang dengan julukan ‘Pengkhianat Belanda’ jika timnya menang.

Sepenuhnya Hiddink hanya mencoba bersikap profesional. Seorang profesional akan mengabdi kepada pihak yang memberinya kepercayaan. Lagi pula, Hiddink pernah memberi kebahagiaan juga untuk Belanda?

Tepat 10 tahun lalu, dia meloloskan Belanda ke semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis. Belanda yang kala itu diperkuat Marc Overmars, Phillip Cocu, Edgar Davids, Frank de Boer, Ronald de Boer, Patrick Kluivert, dan Dennis Bergkamp, hanya kalah adu penalti dari Brasil.

Nama Hiddink di Rusia kini juga makin meroket. Riset TNS Gallup Media pada 18 Juni menunjukkan hasil sangat mengejutkan ketika aksi Guus Hiddink mengalahkan Vladimir Putin dalam hal jumlah pemirsa televisi.

Hiddink, jika mampu membawa Rusia juara Euro 2008, bisa jadi gelar Peter Agung itu diembannya. Lengkapnya Guus “Peter Agung” Hiddink.

Gelar itu simbol lain pertalian sejarah antara Rusia-Belanda. Dalam sejarah Kaisar Peter I (1682-1725), disebutkan Peter Agung mengagumi kota Amsterdam yang banyak sungai dan bangunan kuno, sehingga ia ingin membuat duplikatnya.

Jadilah Kota St Petersburg sesuai impiannya, bagai jendela ke Eropa. Nama aslinya dari bahasa Belanda “Pieterburgh”. St Petersburg juga melegenda dengan nama Leningrad, benteng terakhir bangsa Rusia ketika 900 hari dikepung pasukan Hitler. (*)

Juni 23, 2008 - Posted by | kolom

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: