dunia kecilku

you’ll never walk alone

Jaksa Progresif

INI kisah seorang kawan sekolah, jaksa muda usia, masih aktif, salah satu adhyaksa bergelar doktor, yang dijuluki golden boy oleh profesor hukum terkemuka Universitas Diponegoro, Prof Dr Satjipto Rahardjo SH. Nama lengkapnya Dr Yudi Kristiana SH M Hum.

Saat ini ia menjabat Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Lulus kuliah 1995, dua tahun kemudian jadi staf intelijen di lingkungan Jaksa Agung Muda Intelijen Kejagung.

Tahun 1998 hingga 2001 berdinas di Kejaksaan Negeri Semarang sembari menempuh S-2 di Undip. Pada 2002-2005 ditugaskan sebagai Kasubsie Korupsi Aspidsus Kejati Jateng, sembari menyelesaikan program doktoralnya.

Sejak 2005, atau di tengah jalan ketika menyelesaikan disertasinya, lulusan FH UNS (angkatan 91) ini “dilemparkan” ke pedalaman Sulteng, memangku jabatan Kepala Cabang Kejari Pagimana. Kota pantai yang hanya ramai di siang hari ini letaknya di Teluk Banggai, dikenal sentra ikan asin.

Dari Luwuk, Pagimana bisa dicapai dalam dua jam perjalanan darat. Luwuk sendiri bisa dicapai satu jam perjalanan udara dari Palu, atau dua jam dari Makassar. Sementara jika perjalanan darat dari Palu atau Makassar, jangan ditanya. Ke Luwuk bisa sehari semalam.

Terdamparnya Yudi Kristiana di kota yang berpenduduk 39 ribu jiwa ini diduga kuat terkait penelitian disertasinya. Saya mengutip pernyataan Satjipto Rahardjo tepat di ultahnya yang ke-77 pada 16 Desember 2007.

“Doktor Yudi (Dr Yudi Kristiana SH MHum, Red), yang duduk di belakang itu, seorang jaksa yang cerdas, namun karena berani coba-coba melawan kultur birokrasi kejaksaan yang sekarang ini, kariernya menjadi tidak baik. Ia dibuang ke Luwuk.” (Suara Merdeka, 17 Desember 2007).

Disertasi Yudi berjudul “Rekonstruksi Birokrasi Kejaksaan dengan Pendekatan Hukum Progresif: Studi Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan Tindak Pidana Korupsi.” Promotornya langsung Prof Dr Satjipto Raharjo SH. Pria kalem asal lereng Gunung Lawu ini lulus cumlaude, IPK 3,75.

Isi disertasi itu memang sangat menohok lembaga kejaksaan. Penelitiannya membeberkan karakter kejaksaan saat ini mengandung unsur birokratik, sentralistik, hirarkis, dan sistem komando. Empat karakter itu muncul akibat doktrin bahwa “kejaksaan itu satu” (een en ondeelbaar).

Karakter itulah yang menyebabkan lembaga ini rawan penyalahgunaan kekuasaan. Intervensi pimpinan pun amat sangat terbuka. Jaksa tak punya otoritas menentukan jalannya perkara. Yudi kemudian “menelanjangi” modus-modus penyelewengan yang dilakukan para koleganya.

Untuk perbaikan, Yudi menawarkan “revolusi” di institusi tempat ia bekerja dengan mengubah secara substansial empat karakter lembaganya. Kejaksaan harus jadi lembaga progresif, yang menerapkan hukum progresif.

Hukum progresif berangkat dari dua asumsi besar. Pertama, hukum adalah untuk manusia bukan sebaliknya. Kedua, hukum bukan institusi yang mutlak dan final karena terus berproses. Untuk itu perlu revisi revolusioner UU No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Agung.

Saya sendiri sampai hari ini masih heran, mestinya orang seperti inilah, yang punya semangat progresif, disertakan untuk menggerakkan roda reformasi di lembaganya. Bukannya malah menarik “pedagang permata”, yang justru mencoreng wajah korpsnya.

“Jadi progresif itu tak mudah, bukan tanpa risiko. Risikonya bisa kayak Doktor Yudi itu. Coba bayangkan, doktor kok ditaruh di ndeso. Luwuk itu sudah terpencil, masih masuk lagi di Kecamatan Pagimana, tambah ndeso lagi,” kata Pak Tjip, sapaan akrab Satjipto Raharjo.

Secara pribadi saya mengenal baik kawan yang satu ini. Ketika dulu saya tanya apa patah semangat, padam mimpinya telah “ditenggelamkan” di pedalaman Luwuk, dia cuma terkekeh-kekeh dan bilang perjuangan butuh pengorbanan. Ah!

Maret 5, 2008 - Posted by | kolom

14 Komentar »

  1. Apa kabar Mas Kris? Hmm, menarik. Apa yang terjadi dengan Yudi sudah saya bayangkan saat masih duduk di Kentingan. Makanya saya memilih untuk tidak mendaftar institusi pemerintahan. Tapi untuk rekan-rekan yang sudah aa ‘didalam’ dan tetap dalam garis keyakinan…saya angkat topi!

    teguhbudi.wordpress.com

    Komentar oleh t3guhbs | Maret 10, 2008 | Balas

  2. Mas Teguh Budi, Maturnuwun atas komentarnya.
    Saya sendiri tidak tahu akhir-akhir ini banyak yang memberikan suport pada saya. Ini sungguh sangat berarti apalagi ketika saya banyak ditinggalkan oleh atasan-atasan dalam birokrasi saya sendiri. Karena saya dianggap tidak loyal, tidak cinta korps. Padahal apa yang saya lakukan adalah pertanggungjawaban saya sebagai penegak hukum yang tidak bisa menepis kebenaran keilmuan dan kebenaran hati nurani.

    Ohya, dalam rilisan tulisan tersebut ada sedikit yang perlu saya koreksi: (1) meskipun saya secara keilmuan dekat dengan Prof. Satjipto Rahardjo, dan teori hukum progresif dari Prof. Satjipto Rahardjo saya pakai sebagai basis teoritik dalam disertasi saya, tapi promotor resmi saya adalah Prof. Dr. Esmi Warassih, Prof. Dr.Nyoman dan Prof. Dr. Moempoeni; (2) Perjalanan dari Palu ke Luwuk via darat 16 – 18 jam; (3)Saat ini kebetulan saya menjabat sebagai Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Luwuk di.

    Sekali lagi terima kasih atas atensinya
    Nuwun.

    Yudi K.

    Komentar oleh Yudi Kristiana | Maret 31, 2008 | Balas

  3. saya angkat topi atas keberanian anda untuk tetap menyuarakan suara hati anda ditengah kebekuan sikap dan kebekuan pikir kawan-kawan korps anda. Tetapi maju terus kawan …
    kami punya komunitas bernama Serikat pekerja hukum progresif (SPHP) yang mempunyai misi berpikir dan bertindak progresif dalam menjalankan pekerjaan kami sebagai pekerja hukum (paralegal, advokat, bantuan hukum, akademisi)mewujudkan hukum yang berorientasi manusia dan kemanusiaan, saya harap suatu saat kita bisa bertemu dan bertukar pikiran baik melalui email maupun jumpa darat .. salam progresif

    Komentar oleh Bayuaji | April 22, 2008 | Balas

  4. kang yudi, isih eling aku ra? aku prabowo kang… sesama alumni s2 undip kejaksaan, kejaksaan tidak akan pernah meninggalkan kita kang…. hanya suratan Tuhan shg mas yudi ke luwuk… tapi pasti ada hikmah, seperti waktu saya ditunda pelantikan jaksanya…. tapi sedikit info buat njenengan…skrg njenengan masuk nominasi jadi kasi penyidikan DKI jakarta… disini kawan2 udah tunggu akang..(ada kang asep n mulyana)… sabar kang moga2 sebentar lagi liat monas….

    Komentar oleh haryoko a prabowo | April 24, 2008 | Balas

  5. Dear mas kris

    Inilah dunia nyata yang mesti dilalui, mestinya mas yudi tersebut belum cucok dizaman skr ini, karena reformasi skr ini masih bayang-2 , ya namanya juga masih masuk kedalam dunia reformasi sesungguhnya.

    Saya kira kepindahan mas Yudi kesana, adalah langkah yang tepat sebab, orang seperti mas yudi ini jangan terkontaminasi dengan keadaan skr ini sebab dia lah calon jaksa agung masa depan yang berpikiran progresif.

    Kalo saya jadi presidan aku akan angkat mas Yudi itu sebagai Jaksa Agung termuda.hahhah, kalo rakyat milih saya mas.

    Kalo dilihat di negeri ini, selama masih beum adanya reformasi maka akan semakin banyak yg jadi korban masih ingat jaksa agung yg sangat revolusioner… yang akhirnya meninggalnya diduga diracunin….

    Cuma ada yg saya mau protes mas kris. Luwuk itu bukan ndeso lagi loh,… kalo pagimana masih iya… karena saya dulu dari sana sekitar tahun 1970-1986 skr sdh di jkt dan berkeluarga dan bekerja di jakarta… dulu aja ga ndeso gimana skr ini, menurut cerita teman-2 luwuk sudah sangat berkembang pesat.

    Tapi saya bisa maklumi karena hanya dengar aj trs dari Jakarta kesana… mang sih terasa ndeso tapi coba mas kris kesana…nga ndeso koq, malah dengar-2 ada wacana mau dijadikan Propinsi baru ( dgn 4-5 kab/kota )

    Ok dech bro
    torang pe nama (bahasa luwuk)

    Herjun JP

    Komentar oleh Herjun JP | Mei 14, 2008 | Balas

  6. Maturnuwun atas atensi semuanya, yang jelas mulai sekarang harus ada yang mau memikirkan kejaksaan baik dari kalangan internal maupun eksternal.
    Bagi birokrat kejaksaan, sudah saatnya membuka diri terhadap perubahan, masa keemasan kerajaan birokrasi kejaksaan sudah saatnya diakhiri. Pandanglah masa depan kejaksaan sebagai representasi dari kepentingan publik untuk menjamin kepastian tegaknya hukum dan keadilan. Jangan merasa bahwa kejaksaan itu milik kejaksaan sendiri. Kejaksaan hanyalah kepanjangan tangan publik. Berhentilah berfikir untuk diri kita sendiri, dan mulailah dari diri kita sendiri.
    Bagi kalangan eksternal, saya berharap supaya secara obyektif menempatkan kejaksaan sebagaimana yang seharusnya, dengan ikut membangun konsep sekaligus memikirkan bagaimana supaya legitimasi yang diberikan kepada para jaksa itu dapat terlaksana dengan baik. Kewenangan untuk menentukan sebagian urusan bangsa di bidang hukum harus ditempatkan dalam proporsi yang adil. Formulasikanlah performa jaksa agar dapat tampil ideal, berani, jujur, independen dan gagah dengan renumerasi yang seimbang dengan resiko dan besaran kekuasaan yang dimiliki agar dapat mereduksi abuse of power seperti yang terjadi sekarang ini. Tentu saja perlu Jaksa Agung yang mumpuni dan berani membuat jarak dengan pemegang otoritas politik, bukan malah terjebak pada skema kooptasi politik Presiden.

    Salam hormat.
    Yudi K.

    Komentar oleh Yudi K | September 4, 2008 | Balas

  7. Menurutku luar biasa kalau masih ada jaksa yang jujur ditengah terpuruknya institusi kejaksaan dengan keterlibatan korupsi beberapa petinggi Kejaksaan Agung.

    Perbuatan korupsi beberapa jaksa agung sebenarnya terjadi di level dibawahnya yaitu Kejaksaan tinggi dan kejaksaan negeri. Jadi begitu sulitnya untuk memberantasan mafia di Kejaksaan yang secara institusi terindikasi melekat pada tubuh kejaksaan.

    Disertasi Yudi Kristiana menjadi sebuah data yang valid betapa institusi kejaksaan sangat sulit untuk diperbaiki dan juga akan sangat sulit terjadi penegakan hukum jika masih kondisi masih seperti ini.

    Jika revolusi yang dimaksud dalam tubuh kejaksaan oleh Yudi maka revolusi bukan hanya ditubuh kejaksaan tetapi juga tubuh penegak hukum lainnya yang memang saling terkait dan telah menciptakan sebuah mekanisme mafia diantara penegak hukum ini. Namun pertanyaan dimulai dari nama untuk melakukan revolusi karena terindikasi bahwa pimpinan penegak hukum sangat sulit untuk direvolusi karena mungkin saja mereka adalah bagian dari mafia tersebut.

    UNtuk melakukan revolusi atau perubahan di tubuh kejaksaan maka yang penting untuk dilakukan
    pertama ; Jaksa-jaksa yang masih ingin melihat terjadi penegakan hukum Indonesia, jangan hanya melakukan perubahan dari tubuh kejaksaan tetapi juga melandasinya dengan gerakan politik.
    Kedua ; Karena hukum adalah produk dari sistem politik, seharusnya sistem politik harus bersih terlebih dahulu.
    Ketiga ; Untuk mendukung tersebut diperlukan kekuatan politik yang memang berjuang untuk penegakan hukum dan sistem politik yang bersih. Kekuatan politik tersebut Partai Politik, Ormas, Organisasi Profesi, Organisasi masyararakat, intelektual, praktisi yang bersedia untuk melakukan perubahan bersama.

    Anselmus Masiku

    Komentar oleh Tirto merah | September 15, 2008 | Balas

  8. Mas Yudi, sesuai tulisan saya dulu,.. ada benarnya anda di taruh di Luwuk.
    coba lihat saja, sekarang Kejaksaan sedang ditembak KPK dan banyak yg kena dan berguguran.
    Kejujuran itu penting dan ketegasa itu baik namun korupsi itu kurang ajar.
    jadi tetaplah pada komitmen anda semula,…

    best regard

    HJP
    Herjun_jp@yahoo.co.id
    ym : donggle_joen

    Komentar oleh Herjun JP | Oktober 7, 2008 | Balas

  9. buat bung Yudi semangat terus, pantang mundur tegakkan hukum progresif demi keadilan dan kesejahteraan rakyat indonesia, ingat bung perjuangan bila tidak melibatkan rakyat adalah sia – sia, berjuang tidak boleh sendirian harus bersama – sama dengan massa rakyat tertindas, apa akibatnya bila kita berjuang sendirian adalah seperti yang bung alami, oleh karena itu jadikan hal tersebut sebagai pengalaman praktek. Salam Demokrasi !!! salam dari saya buat kawan2 seperjuangan di sana. Badan Persiapan Kelompok Studi Hukum Progresif (KSHP) Sumatera Utara.

    Komentar oleh taufik hidayat nasution SH | Oktober 12, 2008 | Balas

  10. Salut untuk Bang DR. Yudi yang siap menjalankan tugas sekalipun di daerah pelosok. Perjuangan dan pengabdian memang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Saya yakin lembaga yang kita cintai ini (Kejaksaan) suatu saat pasti akan berubah karena tidak ada yang kekal di dunia ini.
    Saya yang masih “junior” dan baru belajar menjadi jaksa -dan bertugas di daerah yang harus menyeberangi lautan kadang bosan melihat “tradisi” di lembaga ini yang tentunya Bang Yudi lebih tahu- merasakan bahwa kejaksaan sudah mulai berubah dan semoga tetap menuju arah yang lebih baik seperti apa yang diharapkan kita semua.
    Yakin Usaha Sampai…dan saya mengharapkan bimbingannya.
    Salam hormat
    Alumnus FH UNS 97

    Komentar oleh Fikri | November 10, 2008 | Balas

  11. salam progresif mas yudi..!!
    saya itu kebetulan baru membaca ringkasan desertasinya mas yudi yang dikirimkan oleh teman2 LSHP Yogyakarta.sebuah sumbangan yang sangat beharga bagi dunia hukum kita sekaligus cermin bagi institusi kejaksaan untuk terus berbenah. untuk mas yudi semoga semangatnya dapat memberi inspirasi terutama bagi jaksa-jaksa muda untuk terus berjuang agar tidak tenggelam dalam kebekuan dan kebisuan institusi kejaksaan yang sudah terkenal sejak dulu kala itu.
    btw kapan nih mas desertasinya dibukukan…??
    terus semangat mas…!!!!

    Komentar oleh miko bae | Januari 10, 2009 | Balas

  12. memang budaya KKN di Indonesia sudah menjadi budaya hukum yang sangat sulit diberantas sehingga kasus korupsi di tubuh pertamina jawa tengah yang tengah disidik oleh jaksa yudi yang diduga dilakukan oleh 4 orang bisa diintervensi oleh pimpinannya sehingga hanya ditetapkan satu orang saja. akibatnya jaksa cerdas yang berani melawan arus ini harus disingkirkan ke pedalaman luwuk. dari kasus ini maka marilah kita pikirkan bersama untuk mereformasi sistem peradilan pidana (SPP) kita ke depan supaya terintegrasi dengan baik, mulai dari tingkat penyidikan, penuntutan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.

    Komentar oleh agus | Januari 11, 2009 | Balas

  13. Yudi kristina…boss-ku juga tuh boss…kalo’ ketemu salam ya ?? alamat blognya ada gak ???

    Komentar oleh iwan28 | Januari 20, 2009 | Balas

  14. Smoga di institusi kejaksaan muncul “Yudi-Yudi” yg lain, ditengah keruwetan dan keterpurukan birokrasi kejaksaan kawan Yudi tetap berani & konsisten berpikir progresif.Teruskan perjuangan muliamu kawan utk sebuah perubahan….
    Salam,
    Agus Suharjana FH UNS angktn ’91

    Komentar oleh harjana | Juni 8, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: