dunia kecilku

you’ll never walk alone

Protes Kultural

KEMARIN koran ini di halaman satu memuat berita protes cukup keras tokoh dan budayawan pesisir utara Jawa Barat terkait penganugerahan budaya di Gedung Merdeka jelang pergantian tahun, Senin (31/12/2007).

Protes muncul karena faktual tak satupun dari belasan figur yang menerima anugerah budaya datang dari kawasan pesisir utara. Belum ada penjelasan resmi dari Pemprov dan Disbudpar Jabar yang punya gawe atas komplain ini.

Hari ini, kabar cukup mengejutkan meski bukan istimewa karena sudah seharusnya, datang dari Jakarta. Dua seniman pesisir utara, dalang Taham dari Indramayu dan Mimi Rasinah si maestro penari topeng Cirebon menerima penghargaan dari pemerintah pusat melalui Depbudpar.

Dua seniman kahot di Tatar Sunda lain juga menerima penghargaan serupa, yaitu Tan Deseng (kecapi suling) dan Eutik Muhtar (guru sinden dan rebab). Mereka dinilai memenuhi kriteria seperti kelangkaan tradisi, waktu menekuni tradisi, dan kesiapan mewariskan ilmu.

“Pemberian penghargaan ini berangkat dari keprihatinan pemerintah atas kebudayaan kita yang sedemikan besar, dengan banyaknya maestro seni tradisi tapi pengetahuan mereka tidak diwariskan ke generasi selanjutnya,” ujar Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Dr Mukhlis PaEni.

Protes tokoh dan budayawan pesisir utara Jabar seolah seperti menerima siraman dukungan dengan terpilihnya Taham dan Rasinah. Komplain mereka yang menilai ada pemarginalan masyarakat utara seperti makin jelas.

Tulisan ini tak hendak memperuncing persoalan, memanas-manaskan suasana dengan menggesek-gesek menggunakan isu primordial atau sensitifitas kewilayahan. Tapi hanya sekadar refleksi mengapa potensi isu seperti ini sampai luput dari pertimbangan orang-orang “pusat” di Bandung.

Apalagi agenda politik pemilihan gubernur-wakil gubernur Jabar tinggal empat bulan lagi. Diakui atau tidak isu perimbangan keterwakilan wilayah sejak lama sering jadi diskusi panas, yang celakanya kerap diredam dengan memandang remeh persoalan.

Memang cukup mengherankan ketika ada sejumlah figur di pesisir utara yang layak menerima anugerah atas dedikasinya memberi warna pada kebudayaan Sunda, tetapi luput dalam daftar.

Anehnya, ada figur yang dinilai tak akrab dengan budaya Sunda, malah terpilih dengan pertimbangan istimewa.

Oleh karena itu bisa dipahami jika kalimat protes budayawan pesisir utara terasa demikian keras. “Kalau masyarakat pantura terus dimarginalkan, apalagi sekarang sudah menusuk pada unsur budaya, bukan suatu halangan bagi masyarakat untuk memisahkan diri dari Jabar.”

Kalimat ini diucapkan Ketua Dewan Kesenian Cirebon, Ahmad Syubbanuddin Alwy. Komplain senada datang dari bangsawan Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat yang juga salah satu “senator” Jabar yang mendapat dukungan suara signifikan di Pemilu 2004.

Mudah-mudahan segera ada upaya yang kongkret dan permanen dari orang-orang “pusat” di Bandung sehingga isu ini tidak bertambah panas seiring mendekatnya jadwal pemilihan pemimpin puncak di Gedung Sate.

Seperti halnya Indonesia yang kuat karena kayanya warna kebudayaan yang dimiliki, Jabar juga akan semakin kuat jika para pemimpinnya tidak lalai, tidak melupakan keragaman kultur dan kekayaan di seluruh penjuru angin, dengan episentrum kekuasaan di Bandung.(Tribun Jabar, 5 Januari 2008)

Februari 16, 2008 - Posted by | kolom

1 Komentar »

  1. Assalamu ‘alaikum,

    Harap dimaklum kalau pemerintah kita memang terkadang tidak awas kepada siapa sebenarnya penghargaan budaya diserahkan dan kita hanya bisa menanggapinya dengan skeptis.

    best regard,
    Elqorni
    http://elqorni.wordpress.com

    Komentar oleh Elqorni | Februari 28, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: