dunia kecilku

you’ll never walk alone

BJ Habibie

SEJAK mantan presiden Indonesia HM Soeharto masuk RS Pusat Pertamina, mengalami fase naik turun, membaik, kritis, membaik lagi, dan stabil kritis hingga hari ini, menurut saya tidak ada peristiwa lain yang sedramatis ketika BJ Habibie datang ke rumah sakit.

Kejadian itu langka dan sangat menentukan bagi kita untuk mengukur bagaimana sesungguhnya sikap, watak, karakter, dan kebesaran keluarga Cendana. Akhirnya ketahuan, BJ Habibie ternyata ditolak kehadirannya di tengah-tengah keluarga Soeharto.

Pihak Cendana beralasan tidak menerima BJ Habibie karena letih dan sibuk. Sementara tim dokter menjelaskan BJ Habibie tak bisa masuk ruang rawat Soeharto karena saat itu perawat tengah memasang peralatan penyedot cairan.

Ini jelas alasan klise dan dicari-cari. Logika akal sehat kita sungguh sulit menerimanya. BJ Habibie bukan tokoh sembarangan. Dia mantan presiden, mantan wakil presiden, dan orang yang dulu amat disayang Soeharto sampai-sampai ia secara khusus dipanggil pulang dari Jerman.

Seusai berkunjung, BJ Habibie didampingi istri memberikan keterangan kepada publik. Habibie mengawali penjelasan dengan menyebutkan dia dan istri datang langsung dari Jerman, tiba di Cengkareng, dan langsung ke RS Pusat Pertamina

Dengan awal kalimat seperti itu Habibie agaknya ingin menunjukkan betapa besar niat dan tujuannya pulang ke tanah air. Dan ketika ditanya apa dan bagaimana perasaannya setelah menengok Soeharto, BJ Habibie menukas, siapapun agar membaca memoar dia.

Terlihat betul BJ Habibie mengungkapkan kekecewaannya. Dia berniat silaturahmi, menyempatkan diri terbang belasan jam dari tempat yang berjarak ribuan kilometer, untuk besuk kepada guru dan tokoh yang dianutnya sedari muda.

Tapi sambutan keluarga Cendana begitu mengecewakannya. Kesimpulan saya, dendam dan permusuhan keluarga Soeharto terhadap BJ Habibie masih belum berakhir. Dan, tentu saja di sinilah kita mestinya bisa mengukur bagaimana watak asli keluarga Cendana. Pendendam.

Lantas apa artinya para tokoh, kroni, eks pejabat orde baru, ulama, hiruk pikuk berlomba menyeru agar masyarakat memaafkan Soeharto. Apa artinya jika kemudian Soeharto dimaafkan, sementara mereka memberi maaf kepada orang lain pun susah.

Memberi maaf dalam konteks moral, agama, kemanusiaan wajib hukumnya. Tapi soal hukum dan keadilan, soal pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan pada masa lalu, itu urusan lain. Hukum tidak bisa dibengkok-bengkokkan atasnama rasa belas kasihan.(Tribun Jabar, 18 Januari 2008)

Februari 16, 2008 - Posted by | kolom

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: