dunia kecilku

you’ll never walk alone

Transparansi

SEBUAH surat elektronik baru saja saya terima dari seorang kenalan, perempuan alumni ITB yang sedang mengambil program doktor di Norwegia. Isinya terdiri tiga bagian artikel pendek yang mudah-mudahan hari-hari ini bisa dibaca di edisi online Tribun Jabar.

Dia menceritakan satu bagian sistem keuangan di negeri yang sekarang dia tinggali, yang menurut saya betul-betul substansial bagi terciptanya tata pemerintahan yang baik dan benar. Yaitu aspek transparansi keuangan perbankan.

Di Norwegia, perbankan terkoneksi dengan kantor pajak lewat sistem jaringan aktif. Oleh karena itu tidak mungkin penduduk Norwegia bisa “menyembunyikan” dirinya dari kantor pajak. Bahkan sampai pendapatan bunga bank pun bisa dipantau hanya dengan mengklik di mesin pencarian.

Itu baru yang pertama. Pemerintah Norwegia juga membuat sistem online yang setiap orang bisa melihat dengan mata kepala sendiri data keuangan setiap individu, asal tahu nama keluarganya. Buka situs tertentu, ketikkan nama keluarga (family name) seseorang, dan sederet data muncul.

Ada data pendapatan, berapa pajak yang dibayar, dan berapa dana yang disimpannya di bank. Praktis tak seorang pun bisa menyembunyikan uang yang dimilikinya, kecuali berbohong atau menyembunyikan tumpukan uang haramnya di bawah kasur.

Jika di data keuangan penduduk ini tidak ditemukan jumlah uang simpanan yang signifikan, atau bahkan nol nilainya, bisa jadi mereka ini memang tidak banyak tabungan, tidak punya, atau punya utang yang banyak, melebihi tabungannya.

Penduduk Norwegia rata-rata per tahun membayar pajak 36 persen dari pendapatan yang diperolehnya. Dengan jumlah penduduk sekitar 4,7 juta jiwa, yang tingkat disiplinnya relatif baik, pajak yang diperoleh negara dari penduduknya rata-rata 200 triliun rupiah per tahun.

Tapi duit pajak itu dikelola dengan baik dan benar, aneka layanan publik dirasakan betul oleh para pembayar pajak. Norwegia sendiri tercatat sebagai satu di antara sedikit negara yang bersih segala-galanya.

Transparancy International (TI) mencatat Corruption Perception Index Norwegia terbaik ke-8 di antara 145 negara di dunia. International Monetary Fund (IMF) mencatat pendapatan kotor perkapita penduduk negeri ini terbaik kedua dari 232 negara di dunia.

Sementara United Nation Development Programme (UNDP) merekam Human Development Index di negara ini terbaik kedua dari 177 negara di dunia. Angka-angka ini menjadi wajar karena praktis orang di negeri ini tak lagi korupsi dengan sistem keuangan yang begitu transparan.

Kisah yang diceritakan kenalan dari Grimstad, kota kecil di negara yang terletak nyaris di kutub utara ini tentu saja menginspirasi. Saya langsung membayangkan andai itu bisa diterapkan di tanah air ini.

Tentu kita benar-benar akan tinggal di negeri yang “gemah ripah loh jinawi adil makmur sentosa”, seperti ungkapan para leluhur. Tak ada lagi pencoleng uang rakyat. Tak ada lagi pencuri dana negara yang melegalisasi diri dengan undang-undang.

Sayang, perempuan berputra dua, yang awalnya saya kenal lewat blog pribadinya itu menutup artikelnya dengan ungkapan pendek. “Aku tidak yakin negeri kita akan sanggup bertransparansi ala Norwegia ini.” Ah, saya pun terbangun dari mimpi. (Tribun Jabar, 5 Februari 2008)

Februari 16, 2008 - Posted by | kolom

1 Komentar »

  1. kalau ini diterapkan di indonesia, bisa saja para pemilik rekening yg tidak ingin datanya diketahui publik memindahkan uangnya ke luar negri – bahkan ini sebenarnya sudah terjadi, sebagian besar devisa kita diparkir di singapura (yg ujung2nya duitnya digunakan untuk membeli saham2 persh2 indonesia sendiri)

    indonesia menganut rezim devisa bebas di mana uang bebas keluar masuk dari negara ini

    Komentar oleh irwan | Maret 19, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: