dunia kecilku

you’ll never walk alone

Tebar Pesona

KIRA-KIRA tiga setengah tahun lalu saya pernah membaca ulasan Effendi Gazali PhD tentang hasil pilpres putaran pertama. Kala itu Effendi Gazali betul-betul pakar komunikasi UI yang masih “fresh” karena baru saja menggondol gelar dari Universitas Nijmegen di Belanda.
Ulasannya segar, lugas, dan betul-betul menyentuh substansi topik yang dibicarakan. Yaitu soal pencitraan dan kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla (SBY-MJK) di pilpres tahap pertama itu. Ini ringkasan analisis Effendi Gazali.
“Tampaknya makin banyak pihak sependapat, kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono sementara ini merupakan kemenangan pencitraan.
Kemenangan SBY adalah refleksi kemenangan tim suksesnya dalam hal perhatian amat detail terhadap pencitraan daripada tim sukses lain.
Hal-hal detail itu mencakup iklan yang fokus pada pembangunan citra, soal busana, gerak tubuh, pilihan kata, dan intonasi kala bertutur, dan pilihan lagu saat bernyanyi.
Pendek kata, SBY dijelmakan dalam persepsi pemilih sebagai seorang capres yang santun bertutur, cool atau keren atau ganteng, pintar, dan kadang tampil santai.”
Sekiranya Megawati Soekarnoputri menghayati ulasan ini, rasa-rasanya dia tak perlu menuding SBY hanya “tebar pesona” sepanjang melaksanakan mandatnya sebagai presiden. Topik ‘tebar pesona” ini agaknya jadi isu penting “perang urat saraf” antara dua figur kuat ini.
Dimulai saat Mega berpidato di tengah-tengah ultah ke-34 PDIP di Sanur Bali pada 10 Januari 2007. “Apa yang ditunggu rakyat dari pemerintah bukan sekadar untaian kata pernyataan akan, akan, dan akan, tetapi rangkaian kenyataan,” kata Mega mengritik SBY waktu itu.
Sejak saat itulah istilah “tebar pesona” menjadi amunisi penentang SBY-MJK tiap kali mengkritisi gerak-gerik dan kebijakan pemerintah. Setelah redam beberapa lama, istilah “tebar pesona” itu muncul lagi di saat Megawati menggelar tur politik Pulau Jawa hari-hari ini.
Jubir kepresidenan Andi Alifian Mallarangeng yang berkumis bapang pun menyindir safari Mega ini dengan pertanyaan balik, “Sekarang siapa yang tebar pesona?”. Kubu Mega gerah. “Jubir presiden jangan asbun,” seru Tjahyo Kumolo, orang dekat Mega di Tegal, 19 November lalu.
Perang urat saraf dua kubu ini coba dinetralisir Wapres Jusuf Kalla. “Kalau kita ke daerah-daerah juga boleh apa saja. Boleh marah, boleh jabat tangan, boleh tebar pesona. Boleh tebar apa saja. Tebar bibit juga boleh,” kata Kalla di Jakarta, 20 November.
Topik isu konflik ini sebetulnya tak substansial. Ecek-ecek, remeh-temeh, isu murahan, topik tak cerdas dan hanya buang-buang waktu saja. Sebab soal tebar pesona, dalam teorinya sah- sah saja. Justru mutlak dilakukan oleh siapapun dalam sebuah kompetisi politik.
Menyodorkan isu ini sama saja menunjukkan kelemahan pihak yang mula-mula menggelindingkannya. Sebab tebar pesona ini sebetulnya pencitraan (packaging), pembangunan citra (image building) yang menjadi prasyarat paling strategis mencapai tujuan.
Megawati yang berjanji merebut kembali kursi kepresidenan dari tangan SBY sebaiknya tidak melupakan pelajaran pahit pilpres 2004. Dia tersingkir karena SBY mampu mengemas citra pribadinya nyaris sempurna yang jadi modal utama merebut persepsi pemilih.
Saya mencatat beberapa “kecelakaan kecil” sepanjang tur politik Megawati, selain topik remeh-temeh seputar tebar pesona. Di antaranya pernyataan Mega di tempat pelelangan ikan Pandangan, Rembang, Jateng, 20 November 2007.
“Nek lanang iku, wis to ora ngerti atur-ature rumah tangga. Nggak ngerti cabe, terasi, ikan asin, dan biasanya minta diladeni. Tinggal makan bae. (Laki-laki itu, sudah lah nggak ngerti ngatur rumah tangga, nggak ngerti cabe, terasi, ikan asin, dan biasanya minta diladeni. Tinggal makan aja, Red).”
Sindiran ini kontraproduktif dari sisi kesetaraan gender. Pemilih kelompok laki-laki akan mempersepsikan sensitif. Sebab, faktanya tidak sedikit juru masak profesional (chef) yang siang malam bekerja di lingkungan dapur justru kaum lelaki. Ah, ada-ada saja! (*)

November 21, 2007 - Posted by | kolom

2 Komentar »

  1. mantap!

    Komentar oleh sopociis | November 21, 2007 | Balas

  2. Couldn’t imagine how would a better writer of skill would write.

    Komentar oleh daily interesting | Desember 2, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: