dunia kecilku

you’ll never walk alone

Tren 2008, Jenmanii Diprediksi Makin Panas

wave of love

Anthurium benar-benar jadi mesin uang di arena Bandung Orchid Festival 2007. Di sebuah stan, hanya dalam tempo kurang setengah jam dua pot penuh kecambah gelombang cinta (wave of love) golden berpindah tangan. Uang tunai hampir empat juta rupiah menggelontor dalam sekejap.

PAMERAN tanaman hias bertajuk Bandung Orchid Festival 2007 di Metro Trade Centre (MTC) Bypass Soekarno-Hatta tinggal empat hari lagi. Ribuan batang tanaman hias aneka jenis dengan bervariasi harga sudah berpindah tangan dari pedagang ke konsumen atau pedagang ke pedagang.
Meski hujan yang terus menerus mengguyur Bandung mempengaruhi minat dan jumlah pengunjung, even ini tergolong cerah. “Bagus kok, respon masyarakat Bandung antusias. Putaran uang juga lumayan,” kata Ediyanto, satu-satunya peserta pameran asal Solo. Edi spesialis anthurium.
Dia memboyong belasan anthurium berbagai jenis miliknya dari Solo, plus 500 pot bibit/anakan wave of love yang sampai kemarin sudah laku separonya. “Minat Bandung ke anthurium mulai bagus. Kayaknya bulan-bulan akhir 2007 ini boom-nya,” imbuh pemilik Gelombang Nursery ini.
Tribun sendiri hanya dalam tempo kurang setengah jam menyaksikan dua konsumen “menyikat” dua pot penuh kecambah gelombang cinta jenis golden. Satu pot berisi lebih kurang 40 kecambah, dan tiap kecambah dilepas dengan harga 50 ribu rupiah.
Kecambah wave golden itu pun baru berumur lima minggu. Seorang perempuan warga dari Cipaku Indah tanpa menawar langsung merogoh tasnya. Berlembar-lembar duit pecahan 50 ribuan dan 100 ribuan pindah ke tangan Ediyanto dalam waktu singkat.
“Kita punya kebun, tapi sebelumnya nggak main anthurium. Kita mau coba serius,” kata perempuan paro baya yang rambut pendeknya dicat warna-warni. Sementara pot satunya yang juga penuh kecambah wave golden langsung ditempeli stiker “sudah laku”.
Bibit anthurium ini diboyong seorang perempuan berseragam TNI dengan pangkat mayor setelah setuju dengan harga yang disodorkan Ediyanto. Bibit-bibit yang dikembangkan di Solo itu kini siap membanjiri Bandung.
Kenyataan ini cukup ironis. Sebab menurut Edi, dulu sebetulnya stok indukan anthurium banyak disimpan kolektor, hobiis, pedagang dan nursery-nursery di seputar Bandung dan Jabodetabek. Mereka belum sadar anthurium bakal merajai pasar.
Sapu Bersih
Rupanya tahun lalu ada aksi sapu bersih anthurium oleh pedagang dari Jateng. Begitu harga tanaman berdaun super ini terdongkrak luar biasa, kalangan pedagang, hobiis dan kolektor di wilayah ini gigit jari. Giliran para juragan baru dari Solo dan sekitarnya berpesta ria.
Dari penelusuran di kios-kios tanaman hias dan beberapa nursery di Bandung, stok anthurium tidak terlalu banyak. Bibit pun mesti didatangkan dari Solo. “Cuma punya dua. Nyarinya susah. Belum lagi harganya kan sering gak nyambung dengan konsumen,” kata Asep, penjaga salah satu kios tanaman hias di Cilaki.
Hal senada diungkapkan Ejang Tosin, pemilik salah satu kios tanaman hias di Buahbatu. “Konsumen kadang gak ngejar di harganya, makanya kita gak punya banyak stok,” kata pria yang punya kebun di Cihideung ini. Menurutnya peminat anthurium di Bandung cukup banyak, tapi belum sampai kategori membeludak.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana prospek anthurium pada 2008? Masihkkah “menggila” seperti situasi dua tahun terakhir ini? Jangan-jangan sebentar lagi sampai titik jenuh dan harga drop sampai ke dasar!
“Percayalah, 2008 anthurium masih sangat prospektif. Bahkan bursa anthurium jenmanii saya prediksikan bakal main panas!” kata Ediyanto, salah satu juragan yang menangguk fulus sangat memuaskan dari bisnis anthurium ini. Dia dulunya “main” di bisnis burung pekicau.
Jenis anthurium yang masih bakal merajai dari golongan yang pakai nama-nama ular. “Kobra, Super Kobra, dan silangan-silangan anthurium itu dengan yang lain. Supernova juga pasti masih gila karena bijinya saja sebutir masih dua jutaan,” lanjut Edi.
Indukan anthurium Supernova ini cuma ada satu di Indonesia. Pemiliknya Yoe Kok Siong, pemilik Kaliurang Garden Nursery di Yogyakarta. Anthurium itu langsung didatangkan dari Amerika Latin. Nilai anthurium milik Kok Siong itu kini ditaksir Rp 2 miliar!
“Dua tahun terakhir ini saya baru betul-betul berani terjun penuh ke anthurium. Sebetulnya saya sudah kenal tanaman ini sejak 90an. Cuma seperti banyak orang lain, saya selalu ragu jangan-
jangan ini cuma tren sesaat,” paparnya.
“Seperti aglaonema, ramainya cuma sebentar, trus sekarang mana? Sementara anthurium, sudah dua tahun ini bertahan. Saya semakin yakin ini bisnis kagak ada ruginya sedikitpun,” terang Edi yang membawa truk khusus untuk memboyong koleksinya ke Bandung.
Bisnis Prospektif
Edi lantas memberi gambaran sangat sederhana betapa masih cerahnya bisnis anthurium. Ia ambil sampel satu pot yang berisi 40 kecambah wave of love golden. Kecambah umur 5 minggu itu dilepas dengan harga Rp 50 ribu per bijinya. Taruhlah belanja awal Rp 2 juta.
“Tiga bulan kemudian sudah bisa dilepas antara 100-200 ribu lho. Jika dari 40 kecambah itu sukses hidup separonya saja, berarti dapet tiga juta rupiah. Masih untung kan! Ongkos dan pemeliharaannya tak mahal kok” kata Edi meyakinkan.
“Ini jauh lebih menggiurkan ketimbang kita simpan uang di bank dan mengandalkan bunganya. Keuntungan bisa seratus, dua ratus, sampai tiga ratus persen. Pemain raksasa pun sampai ikut lho. Djarum dan Gudang Garam investasinya triliunan. Jadi nggak main-main,” lanjut pria bertubuh tinggi langsing ini.
Sekarang Anda tertarik? Tunggu apa lagi! Fakta di Solo dan sekitarnya sudah banyak membuktikan bisnis anthurium bikin kantong ribuan orang makin tebal. Tua muda, laki perempuan, pejabat maupun rakyat jelata, menikmati rejeki daun ini nyaris tanpa batas.
Risiko bisnis selalu ada. Serangan hama, perawatan yang tidak tepat pada anthurium bisa merusak rencana. “Tapi musuh terbesar kita sekarang ini apa coba?” kata Ediyanto kepada Tribun setengah bertanya. “Maling!” cetusnya.(*)

November 7, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: