dunia kecilku

you’ll never walk alone

Kesurupan Anthurium

hokmer

Anthurium daun bikin kesurupan. Sedikit hiperbolis, mungkin. Namun menyimak euforia anthurium di Jateng, DIY, dan Jatim, fenomena ini bukan isapan jempol. Bandung Orchid Festival 2007 yang kini tengah berlangsung di Metro Trade Centre (MTC) pun dikangkangi anthurium.

Seorang pegawai negeri, sebut saja namanya Pak Jono, di salah satu desa di Kabupaten Batang Jateng tanpa pikir panjang menjual sapinya. Duit kira-kira tujuh juta hasil penjualan sapi itu digelontorkan, ditukar anthurium gelombang cinta (wave of love) yang sudah bertongkol.
Tapi beberapa minggu kemudian Pak Jono yang tadinya periang berubah total. Dia lebih banyak bengong, dan kerjaan di kantor pun mulai terbengkelai. Usut punya usut, anthurium yang dia beli dengan menukar sapinya tiba-tiba loyo, dan perlahan mati. Pak Jono stres.
Bagaimana tidak stres, sapi itu tadinya celengan Pak Jono buat cadangan biaya kuliah anaknya. Spekulasi bisnis Pak Jono rupanya berbuah petaka. Anthurium miliknya digerogoti hama, dan tamatlah mimpi indah Pak Jono mendulang untung dari gelombang cintanya.
“Stres Pak! Lha wong istrinya uring-uringan, sapi tak mungkin kembali, gelombang cintanya juga tak mungkin hidup lagi,” ujar Ningsih, tetangga Pak Jono yang mengabarkan berita duka ini kepada Tribun.
Di Semarang, Haryanto, seorang sarjana teknik sipil lulusan Universitas 17 Agustus ketiban rejeki nomplok. Anthurium Jenmanii miliknya yang sudah bertongkol ditukar seorang kolektor/pedagang dengan satu unit Toyota Avanza masih gres.
Dulu Haryanto tekun dengan bidang ilmunya. Tapi sejak booming anthurium, dia tanggalkan ilmunya. Haryanto banting stir berbisnis tanaman hias daun ini. Pundinya bertambah- tambah tebal karena anthurium merajalela, harganya pun menjadi makin di luar akal sehat.
“Saya tanya dia mengapa harga athurium bisa segila ini? Eh, dia juga tidak tahu. Pokoknya ikut bisnis, dan dia sukses mendulang untung,” kata Erwin, teman Haryanto yang membawa kabar sukacita ini ke Bandung.
Lain lagi kisah baik Warsito di Karanganyar Jateng. Pekerjaan sehari-hari pria ini sekuriti pabrik jamu. Gajinya tak seberapa. Dia punya sebidang tanah dan rumah yang temboknya belum penuh diplester.
Sejak awal 2007 di depan rumahnya dia menjajakan pot plastik, shading net, plastik UV, dan sarana pertanian lain. Tapi dari bisnis saprotan ini Warsito mampu meraup laba Rp 25 juta – Rp30 juta per bulan. Belum lagi tambahan dari jasa membuat greenhouse.
Ia meraup rupiah berlipat dari gelombang histeria anthurium. Nasib baik juga dialami para pengrajin pot, penjual bambu, petani dan pemilik pakis, tukang ojek, dan para pekerja petani di sepanjang jalan menuju objek wisata sejuk Tawangmangu.
Karanganyar kini memang jadi sentra anthurium. Ratusan greenhouse anthurium berjajar dengan koleksi ribuan tanaman penuh nilai ini. Bupati Karanganyar Ny Hj Rina Iriani Sri Ratnaningsih SPd bahkan berani memproklamirkan wilayahnya sebagai ibukota anthurium.
Budidaya anthurium di daerah ini memang berputar kencang jadi mesin uang yang menakjubkan. Trend serupa terjadi di hampir semua wilayah di Jateng-DIY. Anthurium indukan yang tadinya bertumpuk di Bandung dan Jabodetabek, seperti eksodus ke wilayah ini.
Di ajang Bandung Orchid Festival 2007 kali ini, meski tema utamanya festival anggrek, display di hampir semua stan memajang anthurium. Pengunjung pun dibuat berdecak-decak kagum, keheranan, bahkan ada yang sampai pusing melihat banderol harga di tiap-tiap potnya.
Tak hanya anthurium dewasa saja yang harganya bikin jantung berdegup kencang, bibit atau anakannya pun sudah bisa kepala bergeleng-geleng. Bibit anthurium jenmanii yang masih kecambah saja sudah dipatok di harga rata-rata minimal 750 ribu.
Jenmanii ini pun berjenis-jenis. Ada Centhong, Jati, Sawi atau Golok. Yang Sawi saja sudah dibedakan lagi dengan Sawi Ijo, Sawi Caisim, dan Sawi Bakso. Yang silangan juga beragam. Ada silangan dengan wave of love disebut Jenwave.
Sedang silangan Jenmanii dengan Hokeri Keris disebut Jeker. Ada lagi nama-nama Jenmanii Supernova, Inova, Pluto atau Superboy. Penamaan ini kadang tergantung selera dan suasana hati kolektor atau penangkarnya.
Anthurium Jenmanii kini memang tengah berkibar-kibar setelah masa kejayaan gelombang cinta atau yang sering juga disebut “wave” menyurut. Turunnya pamor “wave” terindikasi dari stabilnya harga bibit/anakan, tanaman sedang hingga yang indukan.
Umumnya, bibit “wave” berdaun 6-9 dengan panjang daun kira-kira 8-10 cm ditawarkan dengan harga antara 150-300 ribu rupiah. Yang ukuran sedang rata-rata ditawarkan 3-4 juta rupiah. Sementara yang indukan rata-rata mulai tujuh juta rupiah ke atas.
Tanaman berdaun indah ini masih berkerabat dengan aglaonema, philodendron, keladi hias, dan alokasia. Dalam keluarga araceae, anthurium adalah genus dengan jumlah jenis terbanyak. Diperkirakan ada sekitar 1000 jenis anggota marga anthurium.
Dulu anthurium sebetulnya sudah ada di nursery-nursery atau di tangan hobiis. Harganya juga biasa-biasa saja. Bahkan ada nursery yang menaruh di bawah rak-rak, saking tak bernilainya. Pokoknya dipandang sebelah mata.
Anthurium ini jenis tanaman yang asal usulnya dari hutan-hutan basah di daratan Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Banyak spesies anthurium ditemukan di Panama, Kolombia, Brasil, Guyana, dan Ekuador.
Tidak ada yang tahu persis kapan tanaman ini masuk daratan Indonesia. Yang pasti sejak dulu kala anthurium di Nusantara dikenal sebagai tanaman para raja.
Daya tarik utama dari anthurium adalah bentuk daunnya yang indah, unik, dan bervariasi. Daun umumnya berwarna hijau tua dengan urat dan tulang daun besar dan menonjol. Sehingga membuat sosok tanaman ini tampak kekar namun tetap memancarkan keanggunan tatkala dewasa.
Tak heran tanaman ini memiliki kesan mewah dan eksklusif. Secara umum anthurium ada dua, yaitu jenis anthurium daun dan anthurium bunga. Anthurium daun memiliki daya pikat terutama dari bentuk dan tekstur daunnya yang istimewa.(*)

November 6, 2007 - Posted by | Uncategorized

6 Komentar »

  1. TUKANG JAMU SERING MELIHAT LIHAT

    Komentar oleh SUDARMA | Februari 26, 2008 | Balas

  2. jangan tejebak dg iming-iming yg menggiurkan, kalau harga anthurium harganya selangit, semua orang bisa dong nanem anthurium…..
    itu bisa-bisanya kolektor aja, agar bisnis anthuriumnya banyak diminati orang.

    Komentar oleh zenie | Juni 18, 2008 | Balas

  3. Gw sih..dgn anthorium asyik-asyik aja.!!! No Problem!
    ada anak kecil menggambar dan pasti ada bunga, pohon atau pegunungan ya..ngak?!,
    Ada petani diladang dan akan terlihat sedih apabila tanahnya gersaang.! ye..ngak?!,
    anda bayangkan apabila Ada gedung atau rumah tanpa pepohonan? panaass pastiii..!!!
    semua akan indah terlihat, sejuk dirasa dan bahagia dibathin apabila dunia ini, gambar lukisan anak kecil itu, para petani disampingnya ada pepohonan!!! iya..ngak!! pasti donk!!
    gw sih Asyik-asyiik aja karena oksigen yang anda hirup adalah hasil dari sirkulasi produksi tumbuh-tumbuhan, coba hayati dan bayangkan dunia tanpa pepohonan.?? ihh.Ngeriii! iya ngak?!
    Mari kita kembalikan pemanasan dunia ini agar sejuk,
    mari kita bantu ciptakan udara yang kita hirup agar segarr!!
    dengan Dimulai pada rumah kita yang kecil ini agar hijau dan sejuuuk!! apapun jenis-jenis pohonnya Ok.! end thenkyou buat penanam pohon, tukang kebun, termasuk juga penghobby Anthorium.!!
    Bravo JAKMAPA (Jakarta Menteng Atas Pecinta Alam)

    Komentar oleh JAKMAPA | Oktober 8, 2008 | Balas

  4. Anthurium sampai kapanpun ga ada habisnya, sayang aq agak terlambat, menekuninya baru 2 tahun.Biarpun setiap orang punya segudang, kepuasan hobi dan koleksi melebihi dari laku dan tidaknya tanaman tersebut.Bahkan kalau ada uang aq lebih suka membeli ketimbang menjual.

    Komentar oleh one | Desember 13, 2008 | Balas

  5. mari kita dukung berhoby sekitar bunga, pepohonan, dll. syukur akan membawa dampak kemakmuran warga di sekitar hutan dan gunung. wilayah merbabu, merapi, sindoro sumbing membutuhkan partisipasi bersama untuk mempertahankan paru-paru dunia.
    misalnya, jika sekitar pegunungan tersebut, rakyat menanam tembakau sebagai matapencahariannya. kemudian LSM bersama komponen masyarakat bersama-sama nego dengan pihak PBB, maka bisa diupayakan adanya penanaman pohon-pohon keras seperti mangga, rambutan, dan jenis buah-biahan lainnya. Hasil dari perytanian itu disiapkan pabrik juisce kerjasama dengan Kehutanan UGM dan perguruan tinggi lainnya. batapa nantinya daerah pegunungan tersebut akan menjadi incaran investor yang akan membantu menggerakkan ekonomi rakyat berbasis industri. pak Bibit Waluyo yang punya motto kembali ke desa membangun desa bisa merealisasikannya bersama masyarakat wonosobo, temanggung, magelang, purworejo, klaten dan boyolali.
    hoby tetao jalan,namun kemakmuran warga tetap terjaga.
    kita tidak ingin kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang. namun segelntir orang dapat bersama warga memakmurkan rakyat.

    Komentar oleh nur khamim | Januari 8, 2009 | Balas

  6. waduh waduh muantap buanget nieh anthuriumnya …oya itu apakah jenis Hokeiri ya…?
    soalnya saya juga punya yang mirip dengan itu
    dan saya setuju dengan komentar di atas semua membutuhkan keteduhan baik manusia dan juga tanaman jika tanaman di taruh di tempat yang sangat terik lama-lama juga mati ,
    aku banyak anakan jemanii kol …ada yang berminat kah…
    gratis ,hubungi mas sutrisno 08568081837,di jamin anda puas
    ganti ongkos kirim aja …he he he

    Komentar oleh solo.balapan | Maret 11, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: