dunia kecilku

you’ll never walk alone

Urbanisasi Akan Selesai Jika Kemakmuran Merata

urbanisasi

TEMPO hari sewaktu menyertai muhibah Walikota Bandung Dada Rosada ke Braunschweig, kota mitra Kota Bandung yang terletak di negara bagian Lower Saxony Jerman, saya merekam sejumlah isu menarik terkait problem sosial.
Salah satu yang paling krusial adalah migrasi penduduk. Isu ini tak hanya muncul di Jerman, tapi hampir di semua negara maju dan sukses pasca unifikasi Eropa. Dalam skala tertentu topik ini sama panas dan ruwetnya dengan urbanisasi di negeri kita.
Mimi Schlutter, perempuan asal Padang yang tinggal di Wolfenbuttel, kota kecil tak jauh dari Braunschweig bertutur kepada saya, orang Jerman dulu nyaris tak punya persoalan dengan keamanan lingkungan.
Mereka hidup aman, nyaman, dan tenteram menikmati sukses ekonomi negerinya. Tapi sejak unifikasi Jerman, satu per satu problem sosial muncul. Mobil, motor, sepeda, dan segala macam harta benda yang di luar rumah amblas disikat maling.
Kasus perampokan acapkali muncul benar-benar tak terduga. Unifikasi Eropa semakin menambah ruwet persoalan tersebut. Kejahatan datang bergiliran, mewabah seiring gelombang migrasi penduduk dari daratan Eropa timur ke belahan barat yang lebih makmur.
Meski begitu, saya tidak banyak menjumpai gelandangan berkeliaran di jalanan. Sekali saja saya menemukannya di sudut Dusseldorf, yang notabene kota modenya Jerman. Agak berbeda situasinya dengan di Brussel dan Paris.
Di ibukota Belgia beberapa kali terlihat peminta-minta menghampiri mobil yang berhenti di traffic light. Sewaktu di Paris, di beberapa titik di (jalan) Quai du Hotel de Ville, persis di sisi Sungai Seine yang membelah kota, bergelimpangan gelandangan di balik kantong tidur.
Masih menurut Mimi Schlutter yang sudah tahunan tinggal di Jerman ikut suaminya yang bekerja di pabrik Volkswagen di Wolfsburg, gelandangan ini kebanyakan pendatang dari Eropa timur yang umumnya miskin.
Kemakmuran jelas jadi magnet. Sama dengan pangkal urbanisasi di negeri kita ini. Kota menarik warga desa, yang umumnya tidak lagi memiliki prospek karena minimnya lahan pekerjaan. Industrialisasi sejak lama menjadikan pertanian di pedesaan merosot dari segala sisi.
Sepanjang di pedesaan tidak ada faktor pengikat, daya tarik, sumber-sumber ekonomi yang menarik yang bisa membuat betah warganya, mustahil urbanisasi bisa disetop. Dari semua aspek, perpindahan penduduk berlatar faktor ekonomi sulit dielakkan.
Jerman relatif bisa menekan dampak sosial sejak awal karena begitu tembok Berlin runtuh, pemerintah Jerman Barat menggelontorkan bertriliun-triliun uang untuk mendongkrak perekonomian Jerman Timur yang dulunya sosialis komunis.
Upaya ini sukses. Bahkan sekarang kota-kota eks Jerman Timur, seperti Leipzig, Dresden, dan Magdeburg menjadi pusat industri yang pertumbuhannya sangat cepat. Saya sangat sependapat dengan referat antropolog Unpad Budi Rajab di koran ini, Senin (22/10).
Urbanisasi menurut Budi Rajab dalam konteks Indonesia tak bisa ditolak, tapi hanya bisa dikelola. Persoalan itu kemungkinan besar hanya bisa diredam jika pembangunan seimbang, industri disebar, pertanian direvitalisasi dengan teknik dan manajemen modern.
Kemudahan, salah satunya soal permodalan, diberikan ke penduduk desa agar lebih produktif. Fasilitas publik, sekolah, jalan, transportasi, komunikasi, pelayanan ekonomi perbankan didekatkan ke rakyat di pelosok.
Dalam skala besar, pemerintah Jerman sedikit banyak sukses menyebarkan pusat-pusat ekonomi sehingga tak ada lagi ketimpangan antara barat dan timur. Kota Bandung pun menurut saya tak perlu membuat kebijakan slapstik membendung urbanisasi seperti yang hari-hari ini terjadi.
Urbanisasi terjadi tiap saat, kapanpun ketika penduduk desa merasa hidup di kota akan menjanjikan. Yang tepat adalah mengelola urbanisasi dengan meniadakan praktek-praktek tercela aparatur yang ujung-ujungnya menimbulkan persoalan tersendiri bagi negara dan rakyatnya juga.(*)

Oktober 22, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: