dunia kecilku

you’ll never walk alone

Silaturahmi Politik Wapres Jusuf Kalla

keluarga kalla

JUSUF Kalla memang memiliki karakter sangat berbeda dibanding Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Dia seorang pedagang sebelum betul-betul terjun ke dunia politik. Dengan begitu gaya politiknya juga khas, gaya saudagar.
Pragmatis, lugas, simpel, dan tidak bertele-tele. Pergaulannya juga egaliter, meski jabatannya sebagai wakil presiden yang memiliki protokoler ketat. Karakter ini sangat menguntungkan posisinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Dan, itulah yang sepanjang Idul Fitri 1428 H Jusuf Kalla lakukan di Jakarta. Dia menggelar silaturahmi politik ke belasan tokoh-tokoh politik dan masyarakat terkemuka di Indonesia. Tentu saja hal ini dilakukan sesudah berhalal bil halal dengan Yudoyono.
Peristiwa ini tidak akan terlalu menarik perhatian jika Jusuf Kalla bukan seorang wakil presiden. Dengan jabatan kenegaraan yang melekat itu, Kalla menyambangi satu persatu para tokoh. Dia mendatangi, bukan didatangi seperti lazimnya open house para pejabat lainnya.
Tentu saja langkah ini sangat simpatik. Kalla ingin menunjukkan dirinya mampu merangkul semua tokoh, termasuk yang jadi rivalnya sekalipun. Nilai kunjungan Kalla ini menjadi begitu positif bagi dirinya.
Bahkan Kalla “merendahkan” dengan mengunjungi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Dari Foke, panggilan akrab pengganti Sutiyoso ini, diperoleh keterangan Kalla datang sebagai warga Menteng.
Pada 12 Oktober, Kalla menyambangi Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang hari itu merayakan Idul Fitri. Hari berikutnya, Kalla menemui Megawati Soekarnoputri, Gus Dur, BJ Habibie, dan Hamzah Haz.
Kemarin, giliran Try Sutrisno, Akbar Tanjung, dan HM Soeharto yang dikunjungi. Ini energi positif bagi Kalla dan partainya, sekaligus invastasi jangka panjang sangat berharga menjelang kompetisi politik nasional 2009.
Dari sumber di lingkungan Kalla, dengan kunjungan ke berbagai tokoh ini Kalla ingin menunjukkan budaya baru bahwa yang namanya pemimpin negara harus menghormati pemimpin-pemimpin yang terdahulu.
Sebuah pertimbangan yang sangat simpel, khas pedagang yang orientasinya pragmatis demi keuntungan. Hal menarik lain dari langkah Kalla ini dia tanpa banyak pertimbangan menemui Megawati dan Akbar Tanjung.
Megawati adalah rival politik yang dikalahkannya saat pilpres 2004 bersama Yudoyono. Sampai hari ini, Megawati belum pernah sekalipun bertemu Yudoyono, seolah ada dendam yang belum tertuntaskan.
Dengan Akbar Tanjung, Kalla tentu saja punya persoalan tersendiri. Dia yang “menyisihkan” Akbar saat musyawarah nasional partai itu. Akbar pula yang belakangan dalam disertasinya mengritik Kalla telah membawa perubahan gaya berpolitik Partai Golkar.
Pergumulan elite politik nasional menjelang pilpres 2009 masih cukup panjang. Masih banyak yang bisa dilakukan tokoh-tokoh lain. Mudah-mudahan yang dilakukan para elite ini tak sekadar pertunjukan untuk menyenang-yenangkan hati rakyat.(*)

Oktober 22, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: