dunia kecilku

you’ll never walk alone

Dalang Cuilik!!!

didut mendalang

Ini Dixi (baca: diksi), foto ini pas umurnya 13 bulan. Lagi asyik mendalang lho! Wayangnya dari kardus/kertas yang dibelikan kakeknya waktu ada acara rasulan (bersih desa) Juli lalu. Pertengahan September ini kakeknya datang jauh-jauh, menyempatkan diri nengok cucu saking kangennya. Adikku bilang, kakek Dixi pernah tumpah ruah air matanya pas denger ultah pertama cucunya ini. Ibu juga bilang bapak “mbrebes mili” liat foto cucunya yang ku kirim.
Fotonya emang Dixi lagi pegang wayang gunungan kardus yang ku buat terburu-buru. Dia mainkan wayang kardus itu di tembok deket kamar tidurnya. Kakeknya sebetulnya udah lama memborongkan wayang kulit/kertas untuk Dixi. Cuman karena jauh di desa, akhirnya baru kesampean ngantar bulan lalu. Liat umurnya, Dixi emang belum apa-apa. Anehnya, dia cepet sekali nangkep kalo dikasih conto. Aku hanya sekali saja pangku dia, dan mainkan wayang di tembok. Wis pokoke kaya dalang. Pake suluk dan nembang-nembang segala meski cuman apus-apus. Eh, Dixi langsung bisa niru. Wa wo wa wo…dia coba ikutan nembang dan sulukan….
Waktu kakeknya datang, Dixi udah tidur. Subuh-subuh dia bangun, keluar kamar kaget banyak orang tiduran di depan tivi. Kakeknya ikutan bangun. Oleh-oleh segepok wayang kardus pun langsung dibongkar…..Alamaaaaak,,,,senengnya Dixi. Dikasih conto dikit, dia langsung duduk mainkan wayang…….bapaknya jadi pengrawit, musisi pengiring……! Aduh nak, bapakmu seneng kamu masih punya kesempatan mengenali sejak dini kesenian leluluhurmu! Yang terbaru, Dixi juga seneng minta ampun waktu ku bawa pulang rekaman kidungan Cak Kartolo. Kaget pertamanya, tapi sesudah itu dia berulang-ulang minta diputerin ludruk Suroboyoan itu. Kedua tangannya kerap menari-nari ketika tembang kidungan itu diputer…..aha, lucu sekali!

Oktober 2, 2007 - Posted by | Uncategorized

4 Komentar »

  1. Wekekekekeke….. nggemesin lihat Ki Didut (pangilannya sama dengan panggilan si Dika, Dika Gendut, Didut… Didut…) nDalang.
    Aku jadi teringat Si Arga ketika usianya seperti itu. Kelakuannya sama. Jadi dalang dadakan, kemudian jadi wayang orang (karena tak juga mahir memainkan wayang golek yang harus dirogohnya, dan heran kok wayang nggak ada “anunya” tapi ditutupi sarung kayak anak disunat).
    Dia tertarik wayang golek ketika kami bertamu ke rumah seorang teman. Di sudut ruang tamunya ada wayang golek, Bima, sebagai hiasan. Temanku sempat mendemonstrasikan –alakadarany, wong bukan dalang– cara memainkan Sang Bima.
    Saat kami pamit, Si Arga dia terus merengek, sampai akhirnya tuan rumah merelakan boneka wayangnya diboyong.
    Tiba dirumah, dia paksa aku jadi dalang…….. Ya, “crek-crek nong, crek-crek nong lah! Lakadala…. dst” Aku harus bersila dan menggunakan dua dengkulku sebagai gendang, tangan memukul, dan ketipak-ketipung ketipak-ketipung (bunyi gendangnya ya mulut, kris!).
    Belakangan karena dia tak jga mahir memainkan boneka bertangkai itu, dia sendiri yang minhta didandani seolah-olah jadi Bima. Aku yang harus jadi nayaga sekaligus dalang. Biasanya dia ngumpet dulu di kamar. Di luar, aku mulai “nabuh” musik. “Maka Bimasena pun datanglah…..” dan dia keluar dari kamar dengan hentakan gagah pada setiap langkah dan lengan terkembang-kembang seperti pemain wayang orang menarikan bima.
    Saat aku bicara sebagai dalang yang menyuarakan bima, tanganna bergerak-gerak memeragakan adegan orang sedang bicara. Saat-saat seperti inilah, biasanya, kami yang menyaksikan (bapa-ibunya, nenek, paman, tante) jadi ribut. Lha saat menggerak-gerakkan tangan itu, dua jempolnya selalu terselip di antar telunjuk dan jari tengah. Selidik punjya selidik … dia meniru Kuku Pancanaka-nyja bima yang mencuat seperti taji pada lengan boneka wayangnya…!

    Sekarang… anak itu sedang pontang-panting ngejar-ngejar dosen pengujinya… hehehehe

    Komentar oleh yusran | Oktober 2, 2007 | Balas

  2. Dixi, semoga Ananda kelak menjadi anak berbakat, pencinta budaya nenek moyang yang semakin ditinggalkan kaum muda, dan kalah dari terjangan produk kapitalis.

    Komentar oleh papa uli | Oktober 2, 2007 | Balas

  3. Budaya yang mulai terlupakan bahkan kita malu untuk mempelajari budaya karena dianggap kuno.

    Komentar oleh dwi Yanto | Oktober 3, 2007 | Balas

  4. Kalau perlu nanti saya kirim kaset Kartolo yangbanyak biar si kecil bisa ngidung Suroboyoan sekaligus bikin parikan sendiri. Siapa tahu besok kalu gedhe si buah hati itu bikin grup ludruk (modern) sendiri. Bapaknya jadi produser sekaligus penulin naskah ludruk. Asyik tho!!!

    Komentar oleh Febby Mahendra | Oktober 6, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: