dunia kecilku

you’ll never walk alone

omerta: hukum tutup mulut

ASTORRE sangat serius sekarang. “Apa sepupu-sepupuku tahu bahwa aku punya teman berkuasa seperti Bianco yang akan mematuhi setiap perintah Paman?”
“Tidak,” kata sang Don. “Aku tidak akan memberitahukan apapun pada mereka,” kata Astorre. “Bahkan tentang penculikan itu.” Sang Don merasa sangat bangga mendengar ini.
Dalam diri bocah itu telah tertanam sikap omerta. Ini adalah nukilan pendek kisah di novel Omerta karya Mario Puzo. Penyuka kisah-kisah mafia tentu sangat paham tentang cerita ini.
Kutipan di atas merupakan percakapan Don Raymonde Aprille dan Astorre Viola, diskusi singkat antara paman dan anak pungutnya yang dikisahkan kelak jadi pewaris dan pelindung klan.
Astorre berumur 10 tahun, sementara pamannya di sudah ambang senja. Don Raymonde punya tiga anak, tapi Astorre yang cuma anak pungut dia pilih sebagai pewaris dan pelindung klan.
Meski pungutan, Astorre bukan sembarang bocah. Dia anak Don Zeno yang Agung, mafioso paling besar yang pernah dimiliki Sisilia.
Meski bocah, Astorre sudah paham apa artinya menjaga rahasia. Dan, itulah sebetulnya inti dari mafia, sebuah jaringan orang dan kelompok orang yang rumit tapi memiliki hukum sendiri. Bahkan kadang hukum mereka berkuasa atas hukum negara.
Omerta adalah hukum tertua di kalangan mafia, sebuah hukum kehormatan Sisilia yang melarang pemberian informasi tentang kejahatan yang dianggap merupakan urusan orang yang terlibat.
Hukum itu tak tertulis. Tapi barangsiapa melanggar, akan menerima ganjaran sangat kejam. Tak hanya yang bersangkutan, keluarganya pun kalau perlu akan dimusnahkan.
Analogi ini barangkali terlalu ekstrem untuk membandingkan aksi sindikat pencoleng pajak di eks KP PBB Bandung I beberapa waktu lalu. Kasus miliaran itu kini ditangani Polresta Bandung Tengah.
Meski ekstrem beda kasta, tapi ada sejumlah kesamaan. Pertama, mafia memperoleh kekuasaan dengan cara-cara ilegal. Demikian pula anggota sindikat pajak yang bertahun-tahun bisa aman bekerja di instansi negara.
Kedua, mafia mampu membeli hukum dengan kekayaan yang mereka miliki. Demikian pula dilakukan para penjarah dana negara yang menyuap para pejabat demi kelangsungan usaha mereka.
Yang ketiga, mafia memiliki hukum tutup mulut. Demikian pula jaringan penggangsir uang wajib pajak ini punya hukum tak tertulis untuk menutup rapat kepada siapa, pejabat mana saja yang pernah mereka sogok.
Dengan cara kerja, metode operasi, modus operandi ala mafia ini, kemungkinan amat besar enam penjahat pajak yang diringkus dan kini mendekam di tahanan ini hanya pucuk gunung es dari kejahatan terorganisir di lingkungan pajak.
Amat mustahil mereka beroperasi dengan aman, setidaknya menurut paparan pejabat kantor pajak, dalam tempo dua tahun terakhir. Dengan begitu logikanya, level kasus dan level pelaku bisa naik kelas.
Tak hanya pelaku-pelaku lapangan yang tertangkap basah menyimpan faktur palsu, stempel palsu, bukti pembayaran palsu dan lain sebagainya. Tapi juga harus dikejar siapa yang telah menerima upeti.
Kita menunggu keseriusan polisi menuntaskan kejahatan ala mafia ini. Polisi harus komit pada korban, wajib pajak yang sudah susah payah menyisihkan hartanya untuk membayar kewajiban pada negara.(*)

September 11, 2007 - Posted by | kolom

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: