dunia kecilku

you’ll never walk alone

Reichstag I

HATI saya tergetar begitu menginjakkan kaki di halaman Reichstag. Bukan karena besarnya bangunan yang menjulang di hadapan saya, tapi saya haru bisa menginjakkan kaki di salah satu bekas lokasi pertempuran paling hebat dalam sejarah perang Eropa.
Berlin adalah benteng terakhir Adolf Hitler, dan bangunan di depan saya itu dulu dibakar seorang komunis Belanda, persis ketika Hitler merebut kekuasaan dari Hindenburg, Presiden Republik Weimar.
Hitler dan gundiknya, serta Goebbels beserta seluruh keluarganya, dan sejumlah petinggi Nazi berkubu di bunker beberapa blok dari gedung ini. Hitler dan pendukung fanatiknya bunuh diri di bunker itu, setelah Third Reich (Kerajaan Ketiga) benar-benar runtuh.
Reichstag dulu artinya parlemen Jerman (bermakna insitusi politik). Namun sekarang Reichstag lebih bermakna fisik sebagai gedung tempat parlemen beraktivitas. Parlemen Jerman sendiri disebut Bundestag.
Gedung ini berlokasi di Platz der Republik 1 BerlinTiergarten. Di musim panas menjadi salah satu tujuan utama turisme. Dalam situs resmi Bundestag disebut ada 15 juta orang telah berkunjung ke komplek Reichstag sejak ibukota Jerman pindah dari Bonn ke Berlin.
Arsitektur bangunannya sekarang gado-gado. Sejak didirikan pada 9 Juni 1884 di masa kekaisaran Wilhelm I, gedung ini sudah mengalami berbagai perubahan. Ketika Hilter mulai berkuasa, Reichstag dibakar nyaris ludes.
Sebanyak 96 anggota parlemen musuh politik Hitler tewas dibunuh. Monumen kematian ke-96 orang itu kini ada di halaman Reichstag agar ke pinggir jalan raya, dalam bentuk lempengan batu alam bertuliskan nama mereka, dijejer sepanjang lebih kurang 20 meter.
Sejumlah renovasi menjadikan gedung ini memperlihatkan corak arsitektur abad pertengahan hingga gaya futuristik dari cupula, atau kubah kaca karya arsitek Sir Norman Foster dari Inggris.
Desain cupula kaca ini bukannya tanpa kontroversi. Di awal rencana banyak ditentang karena menabrak ciri Reichstag yang kental dengan gaya gotic. Tapi sekarang malah jadi salah satu simbol beken Berlin.
Bertolak belakang dengan gedung kura-kura DPR/MPR RI di Senayan yang dipagar menjulang memisahkan dengan dunia sekitarnya, Reichstag ini sangat terbuka. Bahkan di musim panas turis bisa antre mengular panjang hanya untuk berkeliling gedung ini.
Pengunjung bisa mengikuti tur ke ruang sidang para wakil rakyat, bahkan duduk di kursi yang biasanya dipakai untuk sidang. Semuanya free alias gratis! Untuk kunjungan grup atau perorangan yang difasilitasi pemerintah Jerman, ada pintu khusus.
Pengamanan gedung ketat dengan standar teknologi canggih. Semua bawaan pengunjung diperiksa lewat mesin pemindai, seperti pemeriksaan di bandara. Fisik pengunjung pun diperiksa menggunakan detektor logam.
Jika pengunjung ingin ke atap gedung yang ada kubah kacanya, ada dua lift besar yang pengoperasiannya dilakukan oleh staf khusus pengelola gedung. Petugas ini selalu ada di dalam lift baik naik maupun turun.
Pengunjung biasanya takkan pernah melewatkan naik ke kubah Reichstag, karena memang di sinilah view terbaik yang bisa didapatkan. Orang bisa menyaksikan kota Berlin ke segala penjuru.
Untuk naik ke puncak kubah, ada jalan berbentuk spiral yang di kiri kanan atas bawah ada kaca. Efek pemandangan yang muncul memang menakjubkan. Seolah-olah di mana-mana ada orang kita kalau kita berada di kubah itu.
Di dasar kubah kaca berderat foto-foto dalam papan bertutup kaca yang menceritakan sejarah perjalanan Jerman. Meski berbahan kaca, tapi pengunjung di dalam kubah tak bakal kegerahan di musim panas karena hawa di puncak Reichstag sejuk seperti di Lembang.

September 3, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: