dunia kecilku

you’ll never walk alone

world cup 2006: Thuram, N’a Pas D’âge


Thuram, Zidane dan legiun Prancis merayakan kemenangan Wold Cup 2000

PAMEO bahwa hidup dimulai di usia 40 sepertinya harus sedikit dikoreksi. Dalam konteks sepakbola, terlebih di turnamen Piala Dunia 2006 ini, “life begins at 30”. Setidaknya ini dialami sejumlah pemain Italia dan Prancis yang akan berlaga di final.
Di tim-tim lain juga banyak terselip pemain yang masih dipercaya tampil oleh negaranya ketika umurnya sudah senja untuk ukuran pesepakbola. Bahkan kiper Tunisia, Ali Boumnijel menjadi pemain tertua yang tampil di Jerman. Boumnijel lahir 13 April 1966.
Di bawahnya ada Jens Lehmann, kiper utama Der Panzer yang prestasinya mengkilap justru ketika menginjak usia 36 tahun. Di Portugal, Luiz Figo, di usia 33 tahun menjadi jenderal lapangan bagi pasukan Luiz Felipe Scolari.
David Beckham (Inggris), Marcos Cafu, Roberto Carlos (Brasil), Phillip Cocu (Belanda), Pavel Nedved (Ceko), Roberto Ayala (Argentina), dan Henrik Larsson (Swedia), adalah nama-nama lain yang bisa disebut di golongan ini.
Mereka belum habis, dan justru seolah sedang menapaki kehidupan baru di lapangan rumput, sebelum habis sama sekali. N’a pas d’âge. Ini ungkapan Prancis bermakna “tak pernah tua”, atau dalam bahasa Betawi artinya kurang lebih “kagak pernah ade matinye”.
Dalam sejarah penyelenggaraan piala dunia, hanya tim Brasil yang memenangkan Piala Dunia 1962, yang rata-rata pemainnya berusia 28 tahun. Selebihnya tim-tim peserta turnamen akbar ini terdiri campuran pemain tua dan muda.
Ada banyak orang yang menyebut usia emas pemain bola adalah antara 20-30 tahun. Rentang usia ini orang sedang punya kesempatan besar mematangkan diri, dan menikmati puncak karirnya. Tapi menyaksikan hari-hari akhir turnamen ini, jelas sekali itu terbantahkan.
Memang, Italia dan Prancis memiliki pemain-pemain muda berbakat, yang juga dimainkan sejak awal. Akan tetapi roh yang memenangkan tim-tim ini hingga babak final masih saja pemain-pemain senja kala.
Zinedine Zidane, inspirator kejayaan tim Prancis, kini usianya 34 tahun. Fabian Barthez, di usianya yang ke-35 tahun masih dipercaya berjaga di bawah mistar gawang. Claude Makelele, masih menunjukkan kelasnya sebagai gelandang di umur 33 tahun.
Sementara Lilian Thuram, yang terpilih sebagai man of the match pada laga Prancis vs Italia, juga tak muda lagi. Umurnya 33 tahun, dan bahkan dua tahun lalu ia menyatakan gantung sepatu dari tim nasional.
Les Bleus sendiri jika dirata-rata materi pemainnya berusia 30 tahun. Sementara di Gli Azzuri, Fabio Canavarro, Alessandro Del Piero, dan Francesco Totti, jadi bagian generasi emas (golden generation) yang masih berpendar-pendar prestasinya di ajang piala dunia kali ini.
Kiper cadangan Angelo Peruzi (1970), menjadi pemain tertua di Squadra Azzura yang dipertahankan Marcelo Lippi. Sebagaimana Lippi, Raymond Domenech tentu saja punya hitung-hitungan dengan mempertahankan barisan yang tak muda lagi ini.
Lippi sudah membuktikan jimatnya ketika memasang Del Piero di menit-menit penentuan saat bertemu Jerman. Pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Juventus ini melengkapi keunggulan Italia pada malam mencekam di Dortmund itu.
Golnya tercipta sangat indah, membuktikan ketenangan seorang masterpiece dalam mengocek bola. Hal serupa terjadi ketika Prancis bertemu Spanyol di perempatfinal. Zidane, Thuram, dan Barthez yang ikut mempersembahkan trofi Piala Dunia 1998 untuk Prancis
Di semifinal, Lilian Thuram menjadi gerendel paling tangguh yang mengunci pergerakan semua pemain Portugal yang mencoba menggedor gawang Barthez. Pertandingan malam itu benar-benar milik pria kelahiran Pointe-à-Pitre, Guadeloupe, 1 Januari 1972 ini.
Thuram, nama lengkapnya Ruddy Lilian Thuram-Ulien dulu sebetulnya tak pernah punya bayangan akan jadi pesepakbola. Apalagi yang malang melintang di kompetisi internasional, bahkan jadi pahlawan Prancis sebagaimana Zidane.
Thuram, sebagaimana rakyat Guadeloupe yang penganut Katholik taat, sejak muda ingin jadi pastur. Tapi kakinya yang penuh talenta sulit diajak kompromi. Klub Monaco jadi pelabuhan pertama Thuram. Thuram kini memegang rekor pemain yang paling banyak tampil untuk tim Prancis.
Dia melampaui rekor Marcell Desaily yang tercatat 117 kali tampil bersama Les Bleus. Laga penyisihan grup lawan Togo di Cologne, 23 Juni 2006 jadi titik terpenting buat Thuram. Itulah kali ke-118 dia memperkuat timnas.
“Aku pensiun dari tim nasional dua tahun lalu, jadi seharusnya aku tak di sini. Tapi itulah sepakbola, olahraga ini sungguh di luar batas akal kita,” ungkap bek Juventus ini penuh arti.
Legenda hidup Brasil, Pele, pernah memilih Thuram sebagai satu di antara 125 pesepakbola terbaik yang masih hidup. Reputasi Thuram, termasuk keberaniannya melawan serangan rasis yang digelorakan politisi ultranasionalis Prancis Jean-Marie-Le Pen, memesona Pele.
Tim teknik FIFA yang memilih Thuram sebagai man of the match menyodorkan sejumlah alasan mengapa mantan calon pendoa ini terpilih. “Di pertandingan di mana tak ada figur yang menonjol, kita pilih pemain yang konsisten selama 90 menit,” kata Francisco Maturana.
“Ada sejumlah pemain yang bermain bagus selama 15-20 menit, tapi Thuram tampak brilian sepanjang pertandingan. Benteng pertahanan yang dia bangun mengunci kemenangan yang telah diraih Prancis,” lanjut Maturana. Thuram, n’a pas d’âge! Thuram, memang kagak ade matinye! (xna-dimuat di Laporan dari Jerman: Tribun Jabar World Cup 2006, Juli 2006)

Agustus 14, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: