dunia kecilku

you’ll never walk alone

world cup 2006: Pesta Kecil di Frankfurt

SEMBURAN sampanye, gelak tawa, pekikan riuh rendah sekelompok orang mewarnai perayaan 20 tahun gol “tangan Tuhan” Maradona. Pesta kecil itu digelar di sebuah restoran pizza di Frankfurt. Gol itu mengantarkan Argentina ke semifinal, dan akhirnya trofi piala dunia benar-benar direbut tim Tango.
Korbannya, tim Inggris, yang terjegal di perempatfinal secara menyakitkan. “Kita yang terbaik. Kita takkan terkalahkan!” seru Maradona didampingi putri cantiknya, Gianina. Lusinan penggemar Maradona menghadiri perayaan kecil itu Rabu (22/6) malam.
Pesta pizza dan sampanye itu diadakan pria pemilik nama lengkap Diego Armando Maradona, seusai pertandingan Argentina vs Belanda yang berkesudahan 0-0. Pesta ini nyaris terselip di tengah riuh rendah gibolis yang lalu lalang di jantung Kota Frankfurt.
“Kita juara dunia 20 tahun lalu, dan kami akan rebut lagi! Kita akan kalahkan lagi Inggris di final,” kata eks striker bertubuh gempal emosional. Ia begitu yakin mungkin setelah menyaksikan impresifnya permainan Argentina sebelum laga lawan Belanda.
Sekelompok fans bola Inggris yang berada di restoran itu cuma cengar-cengir menyaksikan ulah lucu Maradona. Mantan penyerang Napoli yang pernah merajai Liga Seri A ini memang kondang ketika mencetak satu gol kontroversial itu.
Dia menyambut umpan panjang ke wilayah pertahanan Inggris, dan berduel dengan Peter Shilton yang begitu jangkung. Ujung tombak pendek gempal itu melompat dan menyundul bola, tapi karena kepalanya tak sampai, ujung tangannya lah yang menceploskan bola ke gawang.
Wasit sama sekali tak melihat “kecurangan” itu, dan gol itu membuyarkan impian Inggris melaju ke semifinal piala dunia. Pertandingan itu digelar persisnya pada 22 Juni 1986 di Stadion Azteca, Kota Meksiko.
Saksinya, 114.000 penonton yang menyesaki setiap sudut stadion raksasa itu. Gol “tangan Tuhan” itu ternyata cuma awal dari kedahsyatan Maradona pada pertandingan itu. Dia kemudian mencetak gol kedua lewat aksi spektakuler.
Maradona yang bertubuh mungil untuk ukuran pemain-pemain Inggris, mendribel bola dari garis tengah, meliuk-liuk seperti ular melewati sebarisan pemain bertahan Inggris, dan kemudian mengakhiri aksi itu dengan memperdaya Peter Shilton.
Argentina menang dengan skor 2-1. Setelah pertandingan, Maradona melukiskan gol itu sebagai “un poco con la cabeza de Maradona y otro poco con la mano de Dios” (sedikit karena kepala Maradona, dan sedikit karena tangan Tuhan).
Pernyataan Maradona inilah yang kemudian menjadi kutipan paling fenomenal di jagat sepakbola. Dalam sebuah diskusi dan wawancara di BBC yang dipandu Gary Lineker, si pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1986 Meksiko, Maradona membela diri.
“Aku nggak ngerti mengapa ini disebut curang, licik,” kata Maradona. “Aku bilang ini “tangan Tuhan” karena Tuhan memberi kita tangan. Dan, oleh sebab itulah dua orang, wasit dan penjaga garis, tak melihatnya,” lanjutnya.
Di Jerman, Maradona datang bersama beberapa anggota keluarganya. Dia sepertinya benar-benar pingin menikmati jalannya turnamen dan memimpin suporter untuk tim Tango, karena menolak jadi host atau komentator untuk televisi.
Tiap kali Argentina berlaga, Maradona dan putrinya tak pernah melewatkan kesempatan. Dia bahkan tampil sebagai pemimpin tim pemandu sorak untuk Riquelme cs yang tengah berlaga di lapangan rumput.
Pesta di sudut Kota Frankfurt itu usai ketika matahari datang menjelang. Sekitar pukul 05.48 waktu setempat, setelah menyantap pizza dan menenggak berbotol sampanye Moet & Chandon dan Piper Heidsieck, Maradona dan gerombolannya pun bergegas pergi.
Dilahirkan 30 Oktober 1960 di Villa Fiorito, Argentina, debut Maradona diawali di klub Argentina Junior pada 1970. Enam tahun, pemain bertinggi 166 cm yang dijuluki El Diez, Pelusa, atau El Pibe de Oro ini menggoreng kemampuan kakinya menyepak bola.
Bakat luar biasanya sudah terlihat. Karir profesional Maradona dimulai juga dari Argentina Junior (1976-1981). Kemudian ke Boca Junior (1981-1982). Setelah itu Maradona mulai melanglang ke Eropa diawali dengan merumput di FC Barcelona Spanyol (1982-1984).
Habis kontrak di Spanyol, Maradona terbang ke Italia dan bergabung dengan SSC Napoli. Di klub inilah Maradona malang melintang, membawa Napoli sebagai salah satu klub sepakbola paling ditakuti di Eropa ketika itu.
Tujuh tahun Maradona membela klub itu, sebelum kemudian permainannya menurun dan dia pergi ke Sevilla Spanyol. Cuma setahun bertahan, Maradona yang mulai menua pulang kampung bergabung dengan klub Newell’s Old Boys.
Bertahan setahun di klub itu, El Diez kembali lagi ke klub yang dulu pernah membesarkannya, Boca Juniors. Dua tahun dia mencoba merumput sebelum kemudian benar-benar pensiun.
Di timnas Argentina, Maradona bergabung sejak 1977-1994, bermain 91 kali untuk negaranya, ia mencetak 34 gol. Di luar kehidupan bersepakbola, Maradona pernah terlibat serangkaian masalah obat bius, skandal percintaan, juga kasus pengemplangan pajak di Italia. Itulah Maradona.
Legenda hidup itu kini melewatkan hari-harinya di Jerman, menunggu apakah prediksinya akan menjadi kenyataan, tim Tango jadi jawara. Dari luar lapangan, ia penuh antusias menyaksikan aksi Lionel Messi, striker muda Argentina yang disebut sebagai titisan dia. (xna-dimuat di Laporan dari Jerman: Tribun Jabar World Cup 2006, Juni 2006)

Agustus 14, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: