dunia kecilku

you’ll never walk alone

world cup 2006: leipzig


LEIPZIG, kota tua ini kaya sejarah sepakbola. Dulu, sebelum tembok Berlin runtuh, kota ini merupakan salah satu simbol kekuatan Jerman Timur. Setelah komunis jatuh, kota ini semakin melesat perkembangannya.
Gedung-gedung jangkung bertebaran, menjadikan Leipzig kini salah satu metropolis di Jerman pasca penyatuan. Dari segi historis, Leipzig punya catatan yang sulit dilupakan dalam sejarah perkembangan sepakbola Jerman.
Pada 1900, Deustchland Fussball Bundesliga (DFB) didirikan di kota tua ini. Dan, VfB Leipzig, klub sepakbola asal kota ini merengkuh gelar Bundesliga 1903. Tak berlebihan bila Leipzig disebut rumah spiritual sepakbola Jerman.
Sebagai salah satu bentuk penghormatan, undian babak final Piala Dunia 2006 digelar di sini. Leipzig akan jadi tuan rumah empat pertandingan babak penyisihan. Laga pertama di Zentralstadion digelar antara Belanda lawan Serbia-Montenegro.
Sehari jelang pertarungan mendebarkan ini, praktis seantero Leipzig bertabur oranye, warna khas kebanggaan suporter Belanda. Semarak oranye terlihat mencolok karena penduduk kota besar ini cuma 495.000.
Jadi kehadiran ribuan fans Nistelrooy cs, yang kebanyakan masuk Jerman lewat jalan darat, baik bus maupun kereta, bisa dengan mudah dilihat di tempat-tempat nongkrong, kafe, taman, bar, dan di seputar stadion.
Suporter dari Serbia-Montenegro pun juga sudah berdatangan. Tapi jumlahnya kalah jauh dengan Hollander. Ada lebih kurang 3.000 pendukung Mateja Kezman dkk sudah hadir di Leipzig.
Mereka membawa bendera, mengenakan kaus-kaus berlambang bendera dan warna khas Serbia, berkerumun di sejumlah tempat seperti taman kota bak kawanan lebah. Tak lupa bergelas-gelas bir menemani penantian mereka atas laga Serbia-Belanda.
Jumlah yang sama beberapa hari lalu berdatangan ke kota mungil Billerbeck, di seberang perbatasan Belanda-Jerman, menyaksikan jalannya lantihan timnas Serbia-Montenegro. Kehadiran mereka sungguh mencolok karena jumlah penduduk Billerbeck cuma 10 ribu jiwa.
“Kami sungguh ingin sekali lagi menyaksikan Belanda terkapar, seperti ketika tim kita menakklukkan mereka 6-1 di Euro 2000,” kata Srdjan Cakic (37). Cakic dilahirkan di Alexsinac, Serbia, dan tinggal di Dortmund sejak berumur tiga tahun.
Bersama anak dan teman-temannya, warga Serbia perantauan dari wilayah industri Ruhr, Cakic ingin menyaksikan dari dekat jawara-jawara sepakbola dari negeri kampung halamannya. “Kami ingin sekali menunjukkan rasa cinta kami ke ibu pertiwi Serbia,” katanya bangga.
“Ini juga kesempatan bagi anakku untuk melihat bagaimana pahlawan-pahlawan kami berjuang memanfaatkan peluang,” lanjut Cakic. Sayang, ada satu berita sedih mengiringi keberangkatan timnas Serbia-Montenegro ke Jerman.
Referendum Montenegro beberapa pekan lalu menghasilkan keputusan bulat, rakyat Montenegro memilih berpisah dengan Serbia. Mereka akan berdiri sendiri sebagai negara berdaulat.
Dengan demikian, penampilan timnas Serbia-Montenegro di Jerman ini merupakan penampilan terakhir mereka di kompetisi internasional.
Pusat Budaya
Tradisi Leipzig kental dengan seni dan kebudayaan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno di sana yang kental dengan arsitektur indah. Percetakan dan bisnis buku membuat Leipzig penjuru kebudayaan Eropa akhir abad pertengahan.
Pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan dipelopori tokohtokoh besar Jerman seperti Leibniz, Goethe, Schiller, dan Johan Sebastian Bach. Karena itulah pada awal 1409 sudah berdiri sebuah universitas di kota ini.
Tumbuh dengan masyarakat yang borjusitis, Leipzig punya kontribusi besar bagi perkembangan kebudayaan Jerman. Kelompok orkestra musik, Gewandhaus Orchestra, didirikan pada 1743 oleh masyarakat Leipzig.
Juga rumah-rumah opera yang terkenal di kemudian hari. Perang akhirnya memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tetap bertahan, tak digerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet.
Puncaknya terjadi 9 Oktober 1989 ketika 70 ribu penduduk Leipzig turun jalan dan meneriakkan yel-yel “We Are The People”.
Gelombang protes yang diawali warga Leipzig inilah yang kemudian bergulung-gulung menjadi revolusi damai merobohkan tembok pemisah Jerman Barat-Jerman Timur. Jerman akhirnya menyatu lagi.
Leipzig juga dikenal punya tradisi kuat di cabang senam sejak abad 19. Kota ini pernah dijuluki “Germany’s City of Gymnastics”. Ketika masih berada di wilayah Republik Demokratik Jerman, Leipzig jadi pusat segala sesuatu berkaitan pengembangan cabang olahraga senam.
Di sini pula didirikan Deutsche Hochschule für Körperkultur (DhfK), atau Sekolah Pendidikan Fisik. Ada lebih kurang 300 klub olahraga tumbuh berkembang di kota ini. sejumlah cabang olimpiade pelatnasnya dipusatkan di Leipzig. (xna-dimuat di Laporan dari Jerman: Tribun Jabar World Cup 2006, 11 Juni 2006)

Agustus 14, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: