dunia kecilku

you’ll never walk alone

world cup 2006: conta solo vincere, don Lippi


DON ZENO atau Vicenzo Zeno adalah pemimpin mafia sejati terakhir yang hidup. Dia menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari dan melaksanakan kehormatan tradisi-tradisi lama Sisilia.
Ia menerapkan tarif untuk semua bisnis, tapi tak sudi berurusan dengan obat bius, prostitusi, dan kejahatan lainnya. Tak pernah ada orang miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta uang dan pergi dengan dengan tangan kosong.
Ia memperbaiki ketidakadilan hukum dengan cara, kekuatan, dan senjatanya sendiri lewat tiga algojo utama serta anak buahnya. Raymonde Aprille lahir di Sisilia namun besar dan berkuasa di New York.
Kemudian Octavius Bianco dari Palermo, serta Benito Craxxi yang berkuasa di Chicago. Mereka memimpin cosca (klan) masing-masing dan membentuk la cosa nostra sejak lepas dari Don Zeno.
Cerita fiksi ini bisa dibaca di Omerta, novel legendaris karya Mario Puzo. Stereotip ini hampir-hampir tak bisa dipisahkan dengan Italia. Menceritakan Italia tak lengkap jika tak menyingkap memori tentang mafioso.
Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi orang-orang di Sisilia pada abad pertengahan. Pada perkembangannya, konfederasi ini mulai melakukan kejahatan terorganisir, dan menyusun hukumnya sendiri. Pada abad ke-20 mafia melebarkan sayap ke AS.
Kekuatan mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI antara 1970 hingga 1980 menjungkalkan cosca-cosca besar yang berkuasa di sepanjang pantai timur AS.
Tentu kisah di atas tak ada korelasi langsung dengan Gli Azzuri, yang secara fantastis dinihari kemarin menjungkalkan Der Panzer di perempatfinal Piala Dunia 2006. Tapi saat melihat Lippi memimpin pasukannya melumat Jerman, seolah Don Zeno hadir di sana.
Del Piero dan Fabio Grosso adalah Raymonde Aprille dan Octavius Bianco, algojo Don Lippi yang secara kejam menghabisi cosca Juergen Klinsmann. Sementara Andrea Pirlo menjadi Benito Craxxi, yang dengan cerdik mengatur eksekusi itu.
Kehidupan la cosa nostra (jaringan organisasi rahasia di Sisilia dan AS) memang lebih banyak digambarkan suram dan berdarah-darah. Padahal mafia sejati seperti dilukiskan lewat sosok Don Zeno, selalu punya sisi humanis.
Kehidupan personal mafioso sendiri sangat menarik, sebagaimana bisa dirasakan pada sifat khas masyarakat Italia sekarang. Keluarga-keluarga di Italia memiliki sifat sangat dekat dengan keluarga.
Baik di kota besar maupun masyarakat di pedesaan Italia. Sifat unik yang sampai sekarang masih dipertahankan, setiap jam makan siang tiba maupun setiap jam makan malam, itulah waktunya keluarga berkumpul.
Pertemuan itu menjadi semacam perayaan kecil bagi keluarga. Kegiatan bersama keluarga ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam karena juga diselingi berbagai pembicaraan bermacam-macam topik. Sepakbola adalah salah satu topik favorit diskusi di Italia.
Kehangatan sosial inilah mengapai di sana sampai muncul istilah “Italia, la dolce vita” atau terjemahan bebasnya kurang lebih “Italia, hidup yang indah”. Ini salah satu semangat yang membuat pasukan Marcelo Lippi terlihat begitu tegar di tengah tekanan bertubi-tubi.
Andrea Pirlo, Del Piero, Gianluigi Buffon, Fabio Canavarro adalah orang-orang yang lahir dan besar di tengah tradisi kuat ini. Seperti Pirlo, pengatur serangan AC Milan ini dikenal sedikit pemalu dan orang rumahan.
Dari Deborah, istri yang dinikahinya pada 2001, Pirlo punya bocah lucu berumur tiga tahun, namanya Niccolo. Soal masa depan, Pirlo mengaku tak punya angan-angan muluk.
“Aku ingin jadi penterjemah. Aku punya ijazah kursus bahasa asing, dan aku ingin memadukan kemampuanku ini dengan keinginanku untuk berkelana,” kata Pirlo yang pada laga lawan Jerman dinobatkan sebagai man of the match.
Tapi mastermind dari sukses Italia yang menggenapi siklus 12 tahunan ke babak final ini tentu saja Marcelo Lippi. Don Lippi memegang teguh prinsip conta solo vincere (hanya untuk kemenangan).
Namun, toh pasukan Marcello Lippi itu tampil lugas dan sulit ditembus. Dan yang penting lagi, mereka meraih satu tiket ke perempat final.
Kunci sukses Italia memang tak asing lagi: pertahanan yang kuat yang ditunjukkan dengan hanya kemasukan satu gol dalam empat pertandingan. Satu gol itu pun tercipta lewat gol bunuh diri bek Cristian Zaccardo saat bertemu dengan Amerika Serikat.
Setelah kemenangan 2-0 atas Ghana pada pertandingan pertama Grup E, Gli Azzurri belum lagi menunjukkan sepak bola menyerang yang kerap mereka mainkan di babak kualifikasi.
Conta solo vincere (hanya untuk kemenangan) menjadi mantra yang dianut Italia. Saat menghadapi Australia, tembok tangguh milik Italia semakin terlihat jelas. Bermain dengan 10 pemain setelah bek Marco Materazzi menerima kartu merah, gawang Gianluigi Buffon tak banyak menerima ancaman.
Lippi menegaskan filosofi timnya. “Kami sangat terorganisasi di belakang. Kami menunjukkan kerja keras dan karakter.” Ucapannya bak Don Corleone saat berpidato di hadapan para cosca-nya.(xna-dimuat di Laporan dari Jerman: Tribun Jabar World Cup 2006, 6 Juli 2006)

Agustus 14, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: