dunia kecilku

you’ll never walk alone

Tan Malaka

TAN MALAKA tewas di tangan prajurit TNI. Tepatnya oleh prajurit Batalyon Sikatan Kodam Brawijaya pada 21 Februari 1949. Misteri kematian Tan Malaka terungkap setengah abad lebih setelah menjadi perdebatan seru berbagai kalangan.
Temuan ini diungkapkan Harry A Poeze, Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) yang melakukan riset sangat panjang sejak 1980. Hasil risetnya itu akan diterbitkan dalam enam jilid buku, mulai akhir tahun ini.
Menurut Poeze, Tan Malaka ditembak mati di lereng gunung Wilis, tepatnya di Desa Selo Panggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ia langsung dikuburkan di tempat itu oleh penduduk desa. Eksekusi ini didasari surat perintah Pangdam Brawijaya Mayjen Soengkono dan Komandan Brigadenya Kolonel Soerahmat.
Eksekutornya Letda Sukotjo dari Batalyon Sikatan. Terakhir berpangkat Brigjen, dan pernah menjabat Walikota Surabaya. Motif pembunuhan ini dalam versi Poeze adalah pemberangusan oleh kaum militer yang dikritik olehnya.
Masa-masa itu Tan Malaka memang getol mengritik keengganan elite militer bergerilya setelah agresi militer II Belanda, termasuk soal penahanan Soekarno-Hatta di Bangka yang menciptakan kekosongan kekuasaan. Komentar ini dianggap membahayakan stabilitas.
Karena itu militer bertindak setelah Tan Malaka bergerilya selepas kabur bersama 50-an tahanan anti-Belanda. Awal 2006, Poeze sebenarnya sudah mengungkapkan temuan ini. Cuma waktu itu hanya menyebut sejumlah inisial yang terlibat.
Di kalangan peminat sejarah dan politik, Tan Malaka bukan nama asing. Di kalangan tertentu, dia bahkan jadi semacam simbol gerakan revolusioner. Semacam Che Guevara-nya Indonesia lah.
Generasi muda sekarang mungkin belum familiar dengan pemilik nama asli Sutan Ibrahim. Datuk Tan Malaka atau Tan Malaka adalah gelar dia sebagai pria warga suku Minang. Tan Malaka dilahirkan 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat.
Jika di usia matangnya Tan Malaka keras pendirian, kukuh dalam berpandangan, radikal dalam pemikiran, itu tak mengherankan karena sejak muda ia ditempa oleh penindasan kolonial, selain ia bergabung dengan kaum Islam Modernis di kampung halamannya.
Pada tahun 1912, saat usianya baru 16 tahun, Tan Malaka dikirim ke Belanda untuk belajar. Tujuh tahun kemudian pulang, bekerja sebagai guru di perkebunan Deli Medan. Pemikirannya justru semakin keras setelah melihat ketidakadilan yang dihadapinya.
Belum genap dua tahun, Tan Malaka pindah ke Semarang, bertemu dengan Semaun, tokoh politik yang kemudian dikenal sebagai figur penting komunisme di Indonesia. Sejak itu Tan Malaka memilih jalannya di dunia politik.
Dia getol mengritik pemerintah kolonial. Tak hanya lisan, ide-ide revolusionernya dituangkan dalam berbagai artikel dan buku-buku. Pemikiran besarnya melahirkan gelombang nasionalisme, jauh sebelum Indonesia terbebas dari kolonialisme.
Pada 1924, Tan Malaka menyusun pemikiran-pemikiran besarnya dalam buku yang diberi judul “Naar Repoebliek Indonesia” (Menoejoe Repoebliek Indonesia) dalam Bahasa Belada dan Melayu. Buku itu diterbitkan di Kanton (sekarang Guang Zhou) Republik Rakyat China.
Ini berarti Tan Malaka sudah bicara tentang Republik Indonesia, 20 tahun sebelum Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia mewujudkannya. Dalam konteks inilah pesan ini hendak disampaikan ke kaum muda yang sudah jauh putus bertaut generasi dengan tokoh ini.
Tan Malaka tokoh sangat penting bagi perjalanan bangsa ini, terutama dari segi pemikirannya yang sangat nasionalis revolusioner. Tokoh kemerdekaan Prof Moh Yamin dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” sampai menyamakannya dengan pendiri AS.
“Tak ubahnya daripada William Jefferson dan George Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai, atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah..”
Pada 28 Maret 1963, Presiden Soekarno meneken Keppres No 53 yang menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Tapi selama berpuluh tahun sosok Tan Malaka dikubur oleh yang menang pada revolusi berdarah 1965.

Agustus 1, 2007 - Posted by | kolom

5 Komentar »

  1. Tan Malaka Pahlawan sejati, namun tidak disejatikan dalam diri bangsa Indonesia. salam kenal dari kami di Kebumen

    Komentar oleh rimba | September 25, 2007 | Balas

  2. terkadang orang-orang sepoerti tan malaka memang sering di tekan,bahkan hingga zaman semokrasi seperti saat sekarang ini orang seperti dia bisa hilang ditelan bumi.mengenang jasa tan malaka tentu akan menama semgat jaung kita dan menambah kecintaan kita kepada Indonesia

    Komentar oleh chairul | Februari 6, 2008 | Balas

  3. kalau ada saja di zaman serba bejad ini Indonesia memiliki lima orang seperti TAn Malaka….dalam waktu dua tahun saja Bangsa Indonesia akan menguasai seluruh asia….tentunya !!!

    Komentar oleh Aking Tamb | April 6, 2008 | Balas

  4. gue rindu nih orang yang gayanye kayak bapak tan malaka, bayangin, kalau 25 % aja caleg-caleg kita gaya kepemimpinannya kayak tan malaka wuiihhh mungkin kita bisa jaya kaya jaman mojopahit dulu ye…. hidup bung tan

    Komentar oleh toto | April 22, 2009 | Balas

  5. “Tan Malaka sudah bicara tentang Republik Indonesia, 20 tahun sebelum Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia mewujudkannya”.

    “Tapi selama berpuluh tahun sosok Tan Malaka dikubur oleh yang menang pada revolusi berdarah 1965”.

    ini sangat disayangkan sekali ada seorang pejuang yang tidak dikenang, saya sangat terharu membaca artikel ini dan saya bangga ternyata indonesia memiliki seorang Tan Malaka.

    Komentar oleh Remir | Mei 16, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: