dunia kecilku

you’ll never walk alone

trip to europe: Dortmund, Cologne, Dusseldorf

mampir dusseldorf

DARI Braunschweig tujuan berikutnya kota Dortmund dan Cologne di negara bagian North Rhine-Westphalia. Itu hari ke empat saya di Jerman. Ada bus besar Mercedes dan Johan Daum, sopir berumur 61 tahun mirip Boris Yeltsin yang siap mengantar trip berikutnya ke Belgia dan Belanda.
Braunschweig-Dortmund ditempuh kurang lebih tiga jam lewat jalan raya (autobahn) E45. Melewati tepian kota-kota Einbek, Gottingen, dan Kassel. Jalan mulus berpemandangan indah ladang-ladang gandum, bit untuk bahan gula, dan jagung di kiri kanan.
Di Dortmund tentu saja Westfalen Stadium tak boleh dilewatkan. Ini stadion terbesar di Jerman yang jadi saksi bisu ketika ditekuk Italia di semifinal World Cup 2006. Juga tempat di mana Brasil mencukur Jepang dan Ghana di babak penyisihan dan 16 besar.
Bentuk stadionnya sih biasa saja, masih kalah keren dengan Allianz Arena di Muenchen. Keangkerannya juga tetap kalah dengan Olympia Stadium Berlin, yang beberapa hari sebelumnya saya kunjungi pula.
Atapnya di semua sektor digantung di 8 menara baja yang dicat kuning kehijauan. Dari kejauhan menara-menara itu tampak menonjol. Kandang klub Bundesliga BV Borrusia Dortmund ini dilabel nama Signal Iduna Park hingga 2011.
Dijuluki Opera House of German Footbal karena desain interior stadion ini mampu menghasilkan efek suara sorak dan tepuk tangan penonton maupun sistem tata suara mengagumkan bak gedung opera.
Kapasitas maksimum 82 ribu penonton. Namun untuk laga internasional dibatasi 62 ribu orang. Kelebihan lain, tribun selatan stadion ini (atau tribun timur kalau di Stadion Siliwangi) menjadi tribun tunggal terbesar di daratan Eropa.
Daya tampungnya 25 ribu penonton. Bandingkan dengan Stadion Siliwangi. Satu tribun di Signal Iduna Park atau Westfalen Stadium, rasanya sama dengan total kapasitas kandang klub kebanggaan kita, Persib Maung Bandung ini.
Di tempat ini Walikota Bandung Dada Rosada menyempatkan diri masuk stadion dan mampir ke fans shop klub BV Borrusia Dortmund di sebelahnya. “Kita lihat bagaimana klub begitu profesional mengelola fans dan toko merchandisenya,” kata Dada kepada saya.
Sayang, stadion saat itu dipakai pertemuan keagamaan umat Kristen setempat. Tribun di semua sektor dipenuhi orang. Lapangan rumput sebenarnya kosong, tapi kita tetap tidak bisa melihatnya dari dekat. Ruang gerak pengunjung umum dibatasi.
Diantar petugas, Walikota Bandung masuk stadion ke ruang terbuka di dasar tribun utara. Pandangan dari tempat itu sangat lapang ke segala arah. Banyak informasi diberikan petugas pengelola stadion itu.
Sampai akhirnya Pak Dada ingin tahu bagaimana sistem drainase di lapangan. Seorang petugas lain mengambil seember air, lantas menyiramkannya ke permukaan lapangan. Sama sekali tak ada genangan. Air meresap cepat dalam hitungan detik.
Saya hanya membayangkan, mudah-mudahan seperti itulah kualitas stadion bertaraf internasional yang akan dibangun di Gedebage. Pengalaman di Dortmund ini saya yakin banyak manfaatnya.
Sementara toko klub BV Borrusia Dortmund saya lihat dikelola profesional. Bermacam suvenir, mulai pin, syal, jam tangan, kaus, jaket, topi, cangkir, celana, bola, kaus kaki, hingga aksesoris bayi tersedia. Semua berlogo klub yang didominasi warna kuning kehijauan.
Barang-barang itu orisinil label klub. Tapi kalau ditanya dibuat di mana, jangan kaget karena ada item kaus buatan Indonesia. “Kaus buatan Indonesia ini kualitasnya bagus,” bisik penjaga di konter kaus dan jaket.
Dari Signal Iduna Park, perjalanan berlanjut ke kota Cologne, atau Koeln di lidah orang Jerman, melewati pinggiran kota Hagen dan Wuppertal. Setelah kira-kira dua jam sampailah di Altermarkt Cologne.
Ini pusat kota lama yang dipenuhi bangunan-bangunan berarsitektur abad pertengahan. Ada taman luas dan bangku-bangku buat duduk santai. Puluhan merpati liar berkerumun menambah indah suasana sore itu.
Kota Cologne, termasuk Altermarkt ini dulunya remuk ketika perang dunia kedua. Dari foto udara tahun 1945, satu-satunya bangunan yang relatif utuh dan berdiri tegak cuma Katedral Koeln (Kolner Dom). Kawasan sekitarnya nyaris rata tanah. Bangunan bercorak gothic yang dibangun sejak 1248 itulah yang jadi ikon kota sampai sekarang.
Kesan saya tentang Cologne sama dengan sejumlah kota di Jerman yang sudah saya kunjungi. Serba teratur, warganya berdisiplin, taat hukum, ruang terbuka untuk publik dan sistem transportasinya lengkap.
Setelah semalam menginap di Kosmos Hotel Cologne, hotel itu ada di Waldecker Str 11-15, paginya langsung meluncur ke Dusseldorf. Kata orang, inilah pusat fesyennya Jerman. Seperti Paris lah kalau di Prancis.
Julukan itu memang tak berlebihan. Para pekerja dan warga kota yang memulai kerja berpenampilan keren dan serba modis. Perempuan bersepatu boot kulit, mengenakan mantel mewah dan syal bagus bersliweran di mana-mana.
Hampir semua gerai fesyen, parfum, dan produk-produk kecantikan ternama di dunia ada. Cuaca summer juga sangat mendukung hari itu. Saya benar-benar menikmati suasana Dusseldorf pagi jelang siang itu sambil duduk-duduk di taman, persis di sebelah Galleria Kaufhof.
Setelah makan siang di restoran Cina New World di Ost Strasse 120 Dusseldorf, perjalanan panjang ke Brussels, ibukotanya Belgia dan Uni Eropa dimulai. Melalui jalan raya 44, perjalanan melewati pinggiran kota-kota Neuss, Grevenbroich, Geilenkirchen.
Kota Aachen ada di lintasan terakhir. Saya langsung teringat sosok BJ Habibie, karena di kota itulah eks presiden itu punya rumah dan biasa tinggal di sana jika berada di Jerman. Tapi Aachen cuma saya lihat dari kejauhan karena jalan raya ada di luar kota.
Selepas Aachen saya sangat penasaran seperti apa sih batas negara Jerman dan Belgia. Sebab saya dengar setelah menyatunya Eropa, batas negara di sana menjadi tidak terlihat lagi. Benar juga.
Saya sama sekali tak melihat batas-batas negara ketika memasuki wilayah Belgia. Di titik perbatasan cuma ada rest area dan seperti bekas papan iklan besar melintang di atas jalan raya. Papan itu bersih, tanpa tanda-tanda sama sekali.
Setelah membaca rambu-rambu dan petunjuk jalan di kiri kanan yang tidak lagi menggunakan bahasa Jerman dan Inggris, saya baru ngeh saya sudah berada di daratan Belgia. Liege, kota besar pertama di Belgia dari arah Jerman pada rute itu.(*)

Juli 13, 2007 - Posted by | journey

1 Komentar »

  1. memiliki stadion mirip di di kota dortmunt smoga bukan sebuah mimpi..tapi kenyataan…smoga PERSIB MENJADI SEBUAH STIM FROFESIONAL DAN KEBANGGAAN INDONESIA…

    Komentar oleh iGO bekasi | Desember 11, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: