dunia kecilku

you’ll never walk alone

trip to europe: Wesserschloss, Ladang Ranjau, Westerburg

wesserschloss, westerburg, magdeburg, eks jerman timur

BANYAK orang bilang belum sampai Cina kalau belum ke Tembok Besar (Great Wall). Belum ke Paris kalau belum ke Eiffel. Nah, ke Jerman pun dianggap belum lunas jika belum ke Berlin.
Di kota inipun juga belum lengkap jika kaki tidak menginjak Brandenburg Tor dan bekas tembok Berlin. Beruntunglah, dua lokasi itu sempat saya kunjungi 20 Juni lalu, meski waktunya amat singkat.
Tak jauh dari Reichstag atau gedung parlemen Jerman, di jalan ke arah Brandenburg Tor, alur pondasi tembok Berlin selebar 15 sentimeter disisakan memotong atau searah jalan. Warnanya merah bata.
Kalau kita jalan dari Reichstag ke arah Brandenburg Tor melewati trotoar kiri, di sisi kanan alur pondasi itu dulunya wilayah Jerman Timur. Tembok itu mengular meliuk-liuk membelah kota. Jejak lainnya terlihat jelas di sekitar Potsdamer Platz. Di lokasi itu ada sisa tembok tak terlalu besar, kira-kira 12×3,5 meter saja tingginya. Sisa yang panjang ada di Muhlen Strasse, kira-kira 100 meteran. Sisa tembok itu dipagar besi agar tak lagi dicungkili untuk dijadikan suvenir.
Memang kunjungan saya ini agak kurang lengkap karena saya tak sempat meraba langsung sisa tembok itu. Juga tidak ke pos pemeriksaan (checkpoint) Charlie di Friedrichstrasse yang tersohor itu. Masalahnya itu tadi, waktu mepet.
Saya cuma bisa mengintip sisa tembok yang kusam dan sebagian bolong-bolong di Muhlenstrasse, menyisakan rangka besi itu dari jendela bus. Bus merayap di jalan bekas wilayah Jerman Barat.
Sementara di sisi sebaliknya, yang dulu wilayah Jerman Timur sisa dindingnya penuh gambar karya seniman berbagai negara yang melukiskan masa-masa pembebasan setelah tembok itu runtuh.
Secara umum, setelah hampir 20 tahun unifikasi, sulit mencari perbedaan ekonomi maupun fisik permukiman antara barat dan timur. Berlin tumbuh menjadi metropolitan dengan fasilitas publik yang sangat lengkap dan memadai.
Ini andil pemerintah Jerman (eks Jerman Barat) yang pada 1999 mentransfer dana sebesar lebih kurang 1.000 miliar DM (526 miliar dolar AS) ke wilayah eks Jerman Timur untuk membantu rakyat di sana dan kesulitan ekonomi.
Menurut suratkabar The Economist, transfer ini pernah mencatat rekor penggelontoran dana segar paling besar dalam sejarah manusia. Daerah-daerah eks Jerman Timur pun kini rata-rata tumbuh pesat sebagai metropolis dan kawasan industri.
Namun jika mata jeli di Berlin, sisa perbedaan barat-timur itu masih ada. Bentuk bangunan di sisi eks Jerman Timur umumnya kotak-kotak dan warnanya muram. Sebaliknya gedung-gedung di sisi eks Jerman Barat warnanya cerah dan arsitekturnya modern.
Hari itu Berlin dicapai dengan perjalanan darat dari Braunschweig kira-kira tiga jam lamanya. Sebuah insiden lakalantas di jalan raya (autobahn) A39 Magdeburg-Berlin yang terpantau lewat radio tiba-tiba memberi peruntungan.
Bus keluar dari jalan raya A39, masuk ke jalan lebih kecil melewati pedesaan yang di kiri kanannya ladang gandum sampai batas cakrawala. Pedesaan di Jerman tentu saja beda dengan di negeri kita. Di sana fasilitas lalu lintas terlihat sempurna.
Pesepeda dibuatkan jalur tersendiri di sisi jalan raya. Rambu lalu lintas komplet. Di tiap perempatan lampu pengatur lalulintas berfungsi, pengguna jalan patuh aturan meski lalu lintas amat lengang.
Di tiap beberapa kilometer terdapat kamera perekam kecepatan laju kendaraan. Batas maksimum laju di jalan itu 80 km perjam. Kamera akan otomatis memotret kendaraan yang melintas, jika melewati batas kecepatan yang diizinkan.
Surat tilang pun akan segera melayang ke rumah pemilik kendaraan, atau ke alamat perusahaan jika itu bukan milik perorangan. Oh ya, tadi saya bilang ada peruntungan dari beloknya rute bus gara-gara lakalantas.
Rupanya bus lewat Potsdam, kota yang tak pernah masuk skedul perjalanan. Ini satu kota bersejarah di Eropa, khususnya Jerman. Karena di sinilah akhirnya Jerman dibagi menjadi dua oleh Churchill (Inggris), Truman (AS), dan Stalin (Soviet).
Di kota inipula ada Brandenburg Tor, yang katanya lebih tua dan asli, yang ukurannya lebih kecil ketimbang gerbang yang menjulang gagah di Berlin. Arsitektur bangunan di kota inipun unik dan terbagi tiga.
Ada bangunan yang bentuknya kotak-kotak, kusam, dan hampir seragam berderet. Ini dulunya permukiman rakyat Jerman Timur. Yang kedua komplek gedung berdinding bata merah yang sangat Belanda gayanya.
Yang ketiga tentu saja langgam bangunan berarsitektur modern dan klasik Jerman. Karena cuma lewat, tak banyak lagi yang bisa saya ceritakan tentang Potsdam.
Pulang dari Berlin, rombongan dibawa ke restoran kastil Wasserschloss Romanik Hotel di Westerburg. Lokasinya menjorok ke pedesaan yang sunyi senyap di negara bagian Anhalt Sachsen. Pemandangan di kiri kanan jalan menuju kastil sangat indah.
Bangunan abad ke-8 ini sampai sekarang masih terawat baik. Meski bekas wilayah Jerman Timur, sisa-sisa sosialisme komunis sama sekali tak nampak.
Mobil-mobil bagus VW Golf, termasuk yang convertible teparkir di pinggir jalan atau halaman rumah penduduk. Dari kastil Wasserschloss, perjalanan berlanjut ke Kota Wolfenbuttel sebelum masuk Braunschweig.
Westerburg sendiri dulunya wilayah tapal batas Jerman Timur. Karena itu sekitar tujuh kilometer dari kastil Wasserschloss terdapat bekas pos pemeriksaan. Pos itu tak lagi bertanda. Namun sisanya masih jelas terlihat.
Di sisi jalan ada lajur pemeriksaan sepanjang lebih kurang 50 meter. Posnya tinggal bangunan tanpa atap. Lajur pemeriksaan itu dibagi dua jalur menggunakan kawat yang dulu dialiri listrik. Di luar lajur itulah dulu, sepanjang tapal batas merupakan ladang ranjau.
Menurut Kirchner, sopir bus yang membawa saya dan rombongan, sulit bagi siapapun lolos. Kalaupun lolos dari pos, kemungkinan besar bakal tewas kena ranjau atau ditembak penjaga perbatasan. Itulah Jerman, di saat perang. (*)

Juli 13, 2007 - Posted by | journey

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: