dunia kecilku

you’ll never walk alone

trip to europe: Champs Elysees, Eiffel, Trocadero

avenue des champs de elysees paris

JALAN tersohor di Paris, Avenue des Champs de Elysees, susah payah kami capai dari Roisy. Sebelum masuk Paris, selintas kami lihat Stade de France, stadion raksasa tempat final World Cup 1998 bertengger kokoh di sisi kiri jalan raya.
Sebelumnya, di sisi kanan jalan terlihat Bandara Le Bourget, tempat penyelenggaraan Paris Air Show, pameran penerbangan terakbar di dunia. Sisa-sisa acara masih terlihat karena pameran berakhir 24 Juni, sedang saya masuk Paris dua hari kemudian.
Jalanan penuh kendaraan, lalu lintas merayap beberapa kilometer setelah bandara. Paris tampaknya kota tersibuk yang kami temui sejak keluar Jerman. Tak banyak informasi kami peroleh dari sopir bus yang membawa kami. Dia cuma bisa berbahasa Prancis. Lieur jadinya.
Selain macet, sopir juga belum tahu letak restoran yang hendak kami tuju buat makan malam. Di alat pemandu posisi (GPS) juga tak muncul datanya. Bahasa tarzan pun tak banyak membantu.
Setelah muter-muter, akhirnya ketemu juga restoran Elysees Bonheur itu. Tempatnya nyempil di Jalan de Berri No 5 (5, rue de Berri). Rumah makan Cina ini menempati lantai dasar Galleria Berri, di belakang deretan hotel dan pertokoan di sisi kanan Champs des Elysees.
Saya lihat ada serombongan warga Tionghoa asal Indonesia tengah bersantap. “Kami dari Jakarta, dua hari lagi kami pulang, setelah tur dari Roma, Swiss, dan Austria,” kata seorang di antara mereka saat saya tanya.
Hari masih terang meski waktu sudah menjelang pukul 8 malam. Setelah makan, foto sebentar di tengah jalan Champs des Elysees dengan latar Arc de Triomphe. Perjalanan berlanjut ke Eiffel. Jalanan padat kendaraan, lalu lintas masih merayap.
Skedul awalnya, rombongan naik ke lantai dua Eiffel. Tapi antrean pengunjung yang begitu panjang membuat rencana itu berantakan. Akhirnya semua menikmati Eiffel dengan cara masing-masing.
Tower baja berstruktur rumit itu memang menakjubkan. Saat berada di bawahnya, tubuh ini serasa liliput. Empat kaki Eiffel begitu kokoh menancap bumi. Ukurannya benar-benar super. Sejak dibangun 1889, hingga 1930, Eiffel menjadi bangunan tertinggi di dunia.
Meski pernah ditentang karena bangunan ini dianggap merusak selera dan citra seni Prancis, Eiffel kini jadi ikon kota dan negara. Masyarakat dunia di belahan manapun mengenalnya sangat baik.
Meski posisinya bukan di poros kuno perlambang kedigdayaan kekaisaran Prancis, Eiffel tetap strategis. Ia menjulang di tepian Sungai Seine, yang memisahkan Palais de Chaillot Trocadero dan Ecole Militaire Place du Fontenoy.
Meski tampak cantik dari sektor manapun, ruang terbuka Trocadero di antara dua bangunan yang menjulang jadi pilihan favorit masyarakat untuk berfoto mengabadikan kenangan. Latarnya Eiffel dalam bentuk yang penuh dan tampak begitu berwibawa.
Kira-kira pukul 9 malam, ketika saya berada di taman air mancur Trocadero, tiba-tiba lampu berkerlap-kerlip di sekujur menara Eiffel. Fantastis! Serasa berjuta cahaya menari-nari di ambang malam itu. Nikmat sekali.

Dari Trocadero, bus menjemput di belakang plasa di Avenue du President Wilson untuk selanjutnya bergerak ke Esplanade des Invalides. Ini istana megah sekaligus kuburan para pahlawan Prancis. Napoleon Bonaparte dikubur tepat di bawah kubah emas istana ini.
Sebelumnya bus melintas menyeberangi Sungai Seine dekat terowongan Poin de L’Alma, tempat Lady Diana dan Dodi Al Fayed celaka, dan menewaskan kedua pesohor ini pada 1997. Rute berikutnya melintasi Place de la Concorde.
Ada obelisk, tugu kuno Mesir kuno yang ditancapkan di titik yang segaris lurus mulai Arc de Triomphe, Champs des Elysees hingga Museum Louvre. Dari situ menyusuri Rui Royale, belok kanan ke arah gedung opera Garnier yang kondang.
Memutar di belakangnya, dari situ Galeries Laffayete, pusat belanja ternama di Paris cuma sepelemparan batu. Meski jalanan masih cukup ramai, tapi pertokoan sudah tutup. Dari situ menyusuri Rue de la Paix masuk ke Place Vendome.
Vendome diambil dari nama Duke of Vendom, bangsawan yang membangun komplek itu pada 1687. Place Vendome merupakan plasa luas yang berada di tengah-tengah dua bangunan kuno megah. Sentrumnya tugu di tengah-tengah plasa yang dibangun Napoleon Bonaparte pada 1806-1810.
Tugu setinggi 44 meter itu merupakan simbol kemenangan gilang gemilang Napoleon pada pertempuran Austerliz 1805. Bahannya terdiri 2.300 tabung meriam hasil sitaan dari Austerliz yang dilebur kemudian jadi menara berwarna kehijauan.
Di sisi kanan bangunan dari arah Rue de la Paix terdapat Hotel Ritz, tempat terakhir Lady Diana singgah sebelum tewas. Di sisi kanan sebelum keluar Place Vendome ada bagian bangunan yang konon dimiliki Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei.
Rute berikutnya menyusuri Rue de la Castiglione, belok kanan masuk ke Rue de Rivoli. Ini juga jalan ternama dan bersejarah karena mengingatkan orang akan awal-awal kejayaan Napoleon setelah menang dalam pertempuran Rivoli di Austria pada 14-15 Januari 1797.
Jalan ini sejajar dengan Tuileries Gardens (Jardin des Tuileries), taman besar dan indah yang jadi latar depan Museum Louvre dari arah Place de la Concorde. Di museum yang menyimpan koleksi terlengkap di dunia ini kami cuma bisa melintasi halaman depannya.
Selain sudah tutup, kendaraan apapun juga dilarang berhenti. Masuknya dari gerbang kanan berpintu kecil pas dengan bodi bus. Piramid kaca kontroversial di halaman museum menyembul nonjol di tengah-tengah bangunan kuno itu.
Pikiran saya pun langsung melayang ke kisah-kisah menegangkan di novel fiksi Dan Brown, Da Vinci Code. Saya membayangkan kisah berdarah di Louvre, yang mengawali terkuaknya misteri ordo kuno yang melindungi kerahasiaan kekristenan.
Saya hirup udara di sekitar Louvre yang masuk dari sela-sela jendela, biar meresap ke sekujur tubuh, hidup dan tinggal di sana sebagai kenangan. Selanjutnya kami keluar komplek Louvre, masuk ke jalan Quai de Louvre, menyisir tepian Sungai Seine.
Tak berapa jauh terlihat daratan di tengah Sungai Seine. Daerah itu dinamai Ile de la Cite. Ada komplek besar bangunan kuno bernama Palais de Justice. Di sisi baratnya ada bangunan panjang La Conciergerie, penjara utama saat meletus revolusi 1789-1799.
Di situlah ribuan bangsawan kaya Prancis dijebloskan, dan dipenggal kepalanya menggunakan guillotine semasa fase berdarah paska penggulingan kekaisaran Prancis itu. Di daratan Ile de la Cite juga berdiri kukuh gereja Notre Dame.
Semua bangunan di pulau kecil di tengah Sungai Seine itu masih terawat baik dan sebagian dipakai sebagai kantor pemerintah. Demikianlah, Ile de la Cite dengan penjara dan gereja Notre Dame-nya menutup kisah kecil keliling Eropa.
Malam sudah larut. Sisa waktu saya pakai istirahat di penginapan karena pagi-pagi benar esoknya, 27 Juni, kami harus ke Roisy, untuk kemudian terbang kembali ke Jakarta.(*)

Juli 13, 2007 - Posted by | journey

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: