dunia kecilku

you’ll never walk alone

trip to europe: Brussels, Rotterdam, Denhaag

rotterdam bridge

UNTUK pertama kali sejak dari Braunschweig, saya lihat Johan Daum si sopir bus membunyikan klakson keras-keras sambil mengumpat. “Stupid!” Ia menggeram marah saat laju busnya dipotong sebuah mobil.
Ini bukan Jerman bos, kata saya dalam hati. Ya, melihat Brussels dari dekat tampak beda dibanding lalu lintas di Jerman. Pengguna kendaraan berani main serobot. Penyeberang jalan juga kerap main terabas.
Ini bukan karena Daum, tapi kesan kuat yang saya tangkap tentang Brussels demikian. Semula Daum selalu berpesan, hati-hati di Brussels. Kalau di Belanda, waspadalah di Amsterdam. Saya menebak, oh ini pasti kriminalitas.
Tapi soal lalu lintas, dia tak pernah komentar apa-apa sebelum masuk Belgia. Dan, tak seperti di Jerman yang bersih dan tertib, di Brussels saya lihat sebaliknya. Bahkan ada pengemis di jalanan.
Selain problem sosial ini, lalu lintas juga jadi persoalan tersendiri. Ruwet dan rambu-rambunya tak selengkap dan sejelas di Jerman. Tak heran Daum kerap menggerutu GPS-nya tak banyak membantu.
Kendaraan di Jerman, dan Eropa umumnya sudah dilengkapi peralatan pemandu posisi satelit ini. Transit Sabtu (23/6) malam di Brussels tak banyak yang bisa dilakukan. Pusat keramaian banyak yang tutup lebih awal. Angin kencang menebar hawa begitu dingin.
Akhirnya, hanya pagi sebelum meninggalkan Brussels ke Denhaag, Belanda, saya dan rombongan mampir ke monumen atom. Ini rival utama Manneken Pis, patung bocah lagi pipis, sebagai ikon nasional Belgia.
Eiffel-nya Brussels ini dirancang arsitek André Waterkeyn pada 1958. Letaknya di sebelah King Baudouin Stadium di Heysel Park. Tempat bertaman indah ini juga berdekatan dengan gedung kongres dan taman mini Eropa.
Sekitar pukul 10 waktu Brussels, atau setelah setengah jam di monumen atom, perjalanan dilanjutkan ke Belanda. Rotterdam tujuan berikutnya. Dari Brussels rutenya melintasi Antwerpen, lalu masuk Breda dan Dordrech.
Jarak Brussels-Rotterdam memang tak begitu jauh, karena sekitar pukul 11.15 bus sudah masuk kota pelabuhan terbesar di Belanda ini. Masuk Rotterdam, jembatan legendaris Van Brienenoord menyambut gagah.
Ini merupakan jembatan di atas Sungai Maas dengan tingkat kepadatan lalulintas tertinggi di Belanda. Posisinya strategis menghubungkan negeri tulip itu dengan jalur utama lalu lintas dari Belgia, Luksemburg, maupun Prancis.
Rotterdam masih punya satu ikon lagi jembatan, Erasmus Bridge, yang juga dijuluki “the swan” atau si angsa. Desainnya unik karena bentang jembatan yang dibangun 1996 ini hanya ditopang di satu tiang menggunakan kabel-kabel baja.
Saya langsung teringat jembatan Paspati yang membentang di lembah Tamansari. Ada sedikit kemiripan dari segi struktur penopang bentangnya. Sebelum ke Denhaag, mampir makan siang ke restoran terapung Ocean Paradise di tepian kanal Parkhaven 21.
Di sebelahnya ada taman cukup luas yang ditengahnya berdiri sangat kokoh Euromast. Tower berketinggian 185 meter itu dibangun 1960 menjelang Floriade, festival holtikultura terbesar saat itu.
Selain jadi objek turisme karena bisa melihat kota Rotterdam dari ketinggian, Euromast merupakan menara pemancar televisi. Dari Parkhaven perjalanan langsung ke Denhaag melewati kota Delft, lalu berhenti di Madurodam.
Ini bukan dam atau bendungan air, tapi komplek miniatur Belanda. Letaknya di George Maduroplein 1 Denhaag. Semacam TMII tapi ukurannya benar-benar mini. Meski serba mini, model-modelnya dibuat dengan presisi tinggi dan arsitektur yang persis aslinya.
Sebagian model miniatur dirancang bergerak dengan sistem mekanis atau dikontrol komputer. Misalnya pesawat terbang di landas parkir miniatur Bandara Internasional Schipol, kapal-kapal di miniatur pelabuhan Rotterdam dan lain sebagainya.
Madurodam benar-benar sangat menarik sebagai objek turisme. Arealnya tak banyak makan tempat. Saya membayangkan andaikata Bandung punya objek serupa, ah, tentu wisatawan semakin membanjir.
Hari menjelang petang, dan sayapun meninggalkan Madurodam dengan berjuta suka. Malam itu istirahat di sebuah hotel di World Forum, sekomplek dengan Churchilplein. Tempatnya sepi. Jaraknya cuma kira-kira dua kilometer saja dari Madurodam.
Tenaga harus dihemat karena dua hari berikutnya ada acara-acara resmi yang mesti diikuti. Stamina juga harus benar-benar dijaga karena cuaca summer di Belanda tidak bersahabat. Hujan dan panas silih berganti tanpa bisa diduga.
Angin begitu kencang menerjang dari arah Laut Utara, menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Hujan sedikit menderas. Malam itu makan di sebuah restoran Italia di Scheveningen, komplek wisata di bibir Laut Utara.
Senin (24/6). Hari berikutnya ke Utrecht. Setelah itu nongkrong di Selecta, restoran Indonesia di Vijzelstraat 26, Amsterdam, sebelum ngebut ke Schipol karena jadwal terbang ke Paris begitu mepet.
Di Schipol kami berpisah dengan Johan Daum, sopir bus yang benar-benar mirip Boris Yeltsin itu. Dia telah dengan sabar mengantar kami selama seminggu menyusuri Jerman, Belgia, dan Belanda.
“Oke, tugas saya selesai. Saya langsung pulang ke Frankfurt, mau istirahat. Sampai jumpa!”. Daum sudah dua minggu lebih menghabiskan hari-harinya di bus, dari satu kota ke kota lain.
Sebelum membawa kami, sepekan penuh dia mengantar turis AS keliling Eropa dan berhenti di Berlin. Setelah mengantar kami, dia cuma punya waktu istirahat tiga hari saja. Awal Juli dia sudah harus kembali mengantar rombongan turis AS dari Frankfurt keliling Eropa.
Saat ngobrol ringan ihwal mobil-mobil keluarga di Jerman yang wah-wah, saya sempat tersentak. Dia bilang mobil tunggangannya Audi A8!!!! Ah, betapa beruntungnya kamu Bung!
sopir bus
Pukul 16.00 Schipol kami tinggalkan. Paris kami capai dengan Boeing 737-300 KLM.
Tak sampai sejam, persisnya 50 menit, roda pesawat mendarat di tarmak Bandara International Charles de Gaulle. Sekilas, arsitektur bandara unik. Banyak kolom-kolom lengkung. Orang Prancis biasanya lebih suka menyebut Roisy karena ringkas.
Sebagai persinggahan akhir kunjungan ke Eropa, saya sejak awal berniat menjadikan Paris sebagai gongnya. Saya pelajari banyak hal, saya serap aneka informasi masa lalu dan sekarang Paris lewat internet.
Meski skedul akhirnya jadi amat pendek, saya tetap berusaha keras menjadikan Paris sebagai tissane, minuman La Parisien, yang sanggup membuat tidur kita jadi nyenyak.(*)

Juli 13, 2007 - Posted by | journey

1 Komentar »

  1. aku terkesan bgt sm Brussel.. what a lucky you’re, you can go to there..🙂

    Komentar oleh annisa | Februari 8, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: