dunia kecilku

you’ll never walk alone

trip to europe: Airbus A330-200

airbus a-330-200 yemeni airways jakarta-frankfurt

PESAWAT terbang itu besar sekali. Airbus A330-200 adalah pesawat transpor raksasa yang padanannya kira-kira Boeing 767-300ER. Sejumlah maskapai internasional yang mengoperasikan jenis ini antara lain Cathay Pacific, Qatar Airways, Emirates Airlines, dan Northwest Airlines.
Mesin penggeraknya dua jet General Electric CF6-80E, Pratt & Whitney PW4000 atau Rolls-Royce Trent 700 yang dalam penglihatan saya masing-masing besarnya seukuran
truk engkel.
Saya menumpang Airbus A330-200 Yemeni Airways, pesawat itulah yang membawa saya terbang 17 Juni pukul 15.00 WIB dari Cengkareng ke Sanaa. Kenapa SanaÆa? Karena ternyata rute Yemeni Airways ke Eropa lewat SanaÆa, dan pesawat mesti transit di ibukota negara Yaman itu sebelum melanjutkan perjalanan ke Frankfurt.
Semalam saya menginap di SanaÆa setelah terbang delapan jam nyaris nonstop. Di kota berdebu yang dikelilingi pegunungan ini ada banyak cerita lucu dan menarik, tapi saya akan menuliskan kisah itu di kesempatan lain saja.
Problem selama di pesawat sih tidak ada. Semua oke-oke saja kecuali badan dipaksa menyesuaikan dengan kondisi tekanan udara yang sedemikian kuat karena pesawat
terbang di ketinggian rata-rata 33 ribu kaki, atau lebih dari 10 km dari muka bumi.
Airbus A330-200 sendiri pesawat yang cukup nyaman. Kabin penumpang sangat luas dengan kapasitas penumpang yang bisa mencapai 300 orang sekali terbang. Di kelas ekonomi dalam satu deret terdiri dari 8 kursi. Dua di sisi kiri dan kanan, dan di tengah berderet empat
kursi.
Di kelas bisnis (first class) tentu saja lebih nyaman. Kursinya lebih besar dan sederet cuma terdiri atas empat kursi penumpang. Sebetulnya ini tidak baik, tapi inilah kelebihan kabin kelas ekonomi ketimbang yang first class.
Jika penumpang tak terlalu banyak, penumpang boleh menguasai deretan kursi, yang deret tengah sekalipun (empat seat), dan menggunakannya untuk rebah tidur seperti di ranjang rumah sepanjang penerbangan.
Siapa duluan dia dapat. Ndeso, kata Tukul Arwana, tapi itulah yang terjadi. Dan, nyatanya tak ada satupuan awak pesawat yang saya lihat pernah melarang. Itulah pemandangan unik yang saya saksikan sepanjang terbang dari Cengkareng ke SanaÆa.
Juga ketika penerbangan hari berikutnya dari SanaÆa ke Frankfurt via Roma. Mungkin karena jauhnya perjalanan, hal-hal seperti ini ditoleransi sepanjang penumpang pesawat tidak berjejal.
Pramugari cantik-cantik yang kebanyakan asal Lebanon, Maroko, atau Tunisia paling-paling menegur penumpang saat take-off atau landing. Di saat-saat seperti ini penumpang wajib duduk tegak, badan terikat sabuk, dan sandaran kursi tak boleh rebah.
Ada juga pramugari Yemeni Airways asal Buahbatu, Kota Bandung. Sayang, neng geulis itu lebih banyak di first class jadi nggak sempat interaksi lebih banyak. Tanggal 19 Juni pagi sekitar pukul 07.00 (pukul 12 WIB) saya dan rombongan dari Bandung menginjakkan kaki
di Bandara Internasional Frankfurt. Hawa dingin Eropa di pertengahan summer pun segera menusuki badan. Sebelumnya, dari angkasa sebelum pesawat landing, Frankfurt saya lihat cantik sekali. Kota ini bak permadani bermotif kombinasi lahan pertanian luas, liukan bak ular sungai Rheine.
Kemudian rumah-rumah khas Jerman, gedung-gedung tua, dan menara-menara jangkung berkaca, serta kepulan asap dari beratus-ratus cerobong asap pabrik menjadi bukti
betapa Frankfurt tak pernah tidur sebagai metropolisnya Jerman.
Tak jauh dari bandara, saya lihat dari balik jendela pesawat megahnya stadion kesebelasan Eintrach Frankfurt FC yang berdiri di tengah hamparan hutan pinus di pinggiran kota. Suasana di area kedatangan internasional bandara masih sangat sepi saat kami
tiba.
Pemeriksaan dokumen imigrasi ketat tapi lancar. Empat polisi dan petugas imigrasi Jerman yang memeriksa sama sekali tak melepas senyum. Wajahnya sangat serius. ôDanke!ö kata saya berucap terima kasih setelah paspor saya diperiksa dan dicap.
Eh, alih-alih membalas, melirikpun tidak. ôUh, sombong londo satu ini,ö dengus saya dalam hati. Benar juga kata banyak orang tentang tipikal dan karakter umum orang Eropa.
Mahal senyum, selalu serius, egonya tinggi, dan tak murah melepas senyum pada orang yang baru saja dikenal. Dan, satu lagi, petugas imigrasi dan polisi Eropa lebih teliti mengawasi kehadiran orang-orang non Eropa, atau pemegang paspor non Uni Eropa.
Salah-salah, mungkin kita yang murah senyum akan dikira gila jika di mana-mana mengawali pertemuan, percakapan, pertanyaan, atau interaksi, dengan senyum.
Itulah dunia baru yang berjarak lebih kurang 12 ribu kilometer dari negeri kita.
Meski begitu, banyak nilai-nilai positif ada pada orang Eropa. Disiplin, pekerja keras, taat aturan, dan sangat menghargai waktu dan profesi. Concern mereka pada isu lingkungan pun demikian tinggi. Dari Frankfurt, yang semakin siang tampak semakin sibuk, saya dan rombongan melanjutkan penerbangan ke Hannover menggunakan pesawat BAe 146 Eurowings. Ini
maskapai lokal yang dioperasikan oleh Lufthansa, perusahaan penerbangan terbesar di Eropa.
Hampir sejam lamanya di udara, sekitar pukul 12.00 saya dan rombongan mendarat di Bandara Internasional Hannover. Hannover ini kota besar dan ibukota Negara bagian Lower Saxony (Niedersachsen) yang dikenal sebagai pusat eksebisi internasional. Bandara tampak lengang siang itu. Pemeriksaan imigrasi ketat tapi lancer juga. Polisi Jerman sempat
nanya-nanya isi barang yang kami bawa, tapi setelah dijelaskan kami membawa misi pemerintahan, mereka angkat bahu, tanpa senyum, dan persilakan kami
melanjutkan perjalanan.
Dari Hannover, kami dijemput Elke Gerlach, pejabat perwakilan Pemkot Braunschweig menggunakan bus besar Setra sewaan dari Mundstock Reiser GmBH.
Perjalanan darat Hannover-Braunschweig kami disambut kehijauan alam di kiri-kanan jalan tol gratis. Ladang gandum tak berbatas pandang, suburnya pertanian jagung, menyegarkan fisik yang penat setelah menempuh jalan panjang dari Jakarta.(*)

Juli 4, 2007 - Posted by | journey

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: