dunia kecilku

you’ll never walk alone

wedang panas: keterlaluan

Orang teler, lalu bikin geger, banyak kasusnya. Mabuk, ngamuk, digebuki, lalu diringkus polisi, berjibun kisahnya. Tapi kasus yang menimpa praja senior IPDN ini tentu saja sangat keterlaluan.
Menenggak minuman beralkohol, teler, duel dengan temannya, lantas menyisakan gosip yang bikin geger. Kabar mula-mula yang beredar, ada praja digebuki tentara. Lalu muncul versi praja dipermak anggota Kodim Sumedang.
Kisah seram berikutnya, ada praja IPDN digarap di markas tentara. Versi resmi tentara, praja asal Papua itu mabuk, berkelahi, lalu dilerai warga Cibeusi yang kebetulan anggota Koramil Tanjungsari.
Saat dilerai si praja itu malah hendak menimpukkan batu ke warga yang tentara tadi, reflek si praja kena bogem mentah, lantas ambruk sebelum kemudian dibawa ke rumah sakit. Mana yang betul?
Wasana Praja Yulianus nanti mungkin punya versi sendiri, karena sampai kemarin dia tak membagi kisahnya. Namun dari semua ini, satu hal yang patut dikecam adalah laku bejat Yulianus di tengah-tengah masyarakat.
Inu Kencana, dosen vokal IPDN menuding Yulianus tak punya ‘sense of crisis’, kepekaan diri terhadap persoalan yang melilit lembaga tempatnya menuntut ilmu. Inu betul. Yulianus memperpanjang dosa IPDN di mata publik.
Ia hanya makin mengukuhkan lembaga pendidikan kedinasan pencetak birokrat itu memang benar-benar bobrok. Tak di dalam, di luar lingkungan pun siswa-siswanya melakukan hal-hal yang sangat mencederai.
Sejak awal, visi pemberitaan koran ini tentang IPDN diusahakan selalu tegas dan terarah. Pemecahan rekor penulisan unek-unek praja IPDN di spanduk sepanjang 4,3 kilometer kita pandang pemborosan tak perlu.
Bahkan cenderung koruptif, karena menggunakan dana negara untuk keperluan yang sangat tidak jelas arahnya. Aksi itu cuma upaya pencitraan diri, pemolesan wajah biar kesan masyarakat tentang IPDN bergeser.
Aksi itu tidak lahir dari kesadaran untuk perubahan. Lihat saja salah satu bunyi pernyataan praja. “IPDN COA D’LAWAN (IPDN TIDAK ADA LAWAN)” yang ditulis Nindya Praja BN Kurniawan.
Penilaian ini tidak bermaksud menggeneralisir persoalan dan kesan, karena di antara 4.300 praja pasti ada yang masih beres, punya pikiran niat untuk jadi birokrat yang benar, yang agamis dan taat menjalankan ajarannya.
Namun dengan kasus susul menyusul setelah pembunuhan atas Cliff Muntu, belum ada sedikitpun perubahan di dalam IPDN. Mentalitas masih sama, organisasi masih kuat mempertahankan sistem lama.
Sekali lagi Inu Kencana pernah melontarkan tesis yang cenderung benar kesimpulan awalnyanya. Tak hanya pembenahan sistem dan organisasi, 90 persen dosen dan pejabat struktural IPDN harus dikeluarkan dari lembaga itu.
Dibutuhkan keputusan politik yang sangat kuat kemauannya untuk merubah secara revolusioner IPDN ini. Presiden Susilo Bambang Yudoyono harus berani memutus mata rantai “uang” yang jadi pangkal rusaknya lembaga pendidikan ini.

Juni 6, 2007 - Posted by | kolom

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: